Skip to content

Satu Yohanes Tiga Ayat Delapan Belas

Januari 28, 2011

Pernah kudengar satu cerita. Tentang seorang anak manusia. Kedinginan. Kurus. Dan aku yakin, ada ‘keruwetan-keruwetan’ yang sedang berseliweran dikepala dan hatinya. Entah dia adalah korban dari kejam nya zaman, atau entah dia adalah korban dari takdir, atau entah dia begitu karna manusia itu sendiri yang memilih untuk menjadi seperti itu, aku enggak tau..

Hari itu hari minggu. Langkah kaki membawa manusia itu ke gereja, memberanikan diri menghampiri seorang bapa gereja -entah apa sebutannya, penatua, pendeta, pastur-, yang manusia itu tahu, bapa gereja itu lah yang sering berdiri di mimbar sana.

‘bapa..saya sangat butuh pertolongan…’

Karena sibuknya mempersiapkan keperluan ibadah pagi itu, akhirnya sang bapa gereja berjanji akan mendoakan manusia itu.

(Mungkin) dalam keputus asaan, manusia itu menuangkan perasaan nya lewat puisi.

Saya kelaparan, dan Anda membentuk kelompok diskusi untuk membicarakan kelaparan saya..

Saya terpenjara, dan Anda menyelinap ke kapel untuk berdoa bagi kebebasan saya.

Saya telanjang.. Dan Anda dalam hati mempertanyakan kelayakan penampilan saya.

Saya sakit.. Dan Anda berlutut menaikkan syukur kepada Allah atas kesehatan Anda.

Saya tidak punya tempat berteduh, dan Anda berkotbah tentang Allah sebagai tempat perteduhan abadi.

Saya kesepian, dan Anda meninggalkan saya sendirian untuk berdoa.

Anda kelihatan begitu suci, begitu dekat kepada Allah.
Tetapi saya, tetap amat lapar, kesepian dan kedinginan..

Manusia itu bisa jadi aku, bisa jadi kamu. Bapa gereja itu, mungkin aku, mungkin juga kamu.
Kamu dan aku, bisa menilai siapa yang salah apa yang salah, sehingga kita tidak mengulangi kesalahan yang sama.

 

Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.

11 Komentar leave one →
  1. Januari 28, 2011 16:15

    ngak hanya ngomong tapi tindakan jauh lebih dibutuhkan ya sist…🙂

  2. Januari 28, 2011 21:14

    Saya membaca berkali-kali tulisan ini …

    Dan saya pikir … ini berlaku universal …
    layak untuk kita renungkan …

    yang jelas …
    ada selarik pertanyaan di dalam benak saya ..
    ditujukan untuk saya sendiri …

    … sudah kah saya memberi manfaat bagi orang lain … ?

    Terima kasih atas pembelajaran ini

    Salam saya

  3. Januari 28, 2011 23:28

    wow keren truly inspired me thanks wat postingny GBYou,,,,:)

  4. Februari 2, 2011 7:35

    Jika orang itu ada di sekitar kita, berbuatlah secara nyata untuk menolong mereka. Namun jika penderitaan itu tak terjangkau, maka berdoalah untuk mereka. Bagaimanapun, kita juga punya keterbatasan. Percayalah saja bahwa Allah takkan meninggalkan kita🙂

  5. Februari 2, 2011 9:23

    yuk…
    mampukan kami Tuhan, Amin.

  6. Februari 2, 2011 10:42

    yup, kebanyakan ibadah, tapi tidak peka dengan lingkungan sekitar, sama aja boong…

  7. Februari 2, 2011 11:06

    deeds echoe louder then words

    “They, too, will ask, ‘Lord, when did we see you hungry or thirsty or as a stranger or in need of clothes or sick or in prison and didn’t help you?”

  8. Februari 2, 2011 13:44

    Saya suka ceritanya. Bahan renungan yang bagus sekali. Memang berbicara selalu lebih mudah daripada bertindak.

  9. Februari 2, 2011 17:37

    Kadang saya juga bingung dengan sikap sebagian ahli agama saat dilapori ada permasalahan ekonomi di umat. Kebanyakan mereka menjawab, harap bersabar dan berserah diri pada NYA tanpa ada contoh sabar dan berserah diri pada NYA itu seperti apa😕
    tetap semangat bu😎

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  10. Februari 3, 2011 6:39

    Permisi..
    Selamat berlibur di tahun baru imlek..
    Mengantar hadiah untuk mb Desni.
    Diambil ya mb…
    Makasih..🙂

  11. Februari 19, 2011 23:49

    Tulisan ini benar2 menyentuh dan menegur hati saya. Ibadah tak akan ada artinya tanpa kasih yang nyata.. Terimaksih atas tulisan yang indah ini.. Gbu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: