Skip to content

Bukan Surat Wasiat

Maret 2, 2010
tags:

Entah mengapa beberapa hari ini kata “kematian”  dan “dukacita” begitu familiar buat saya. Kata yang mungkin tak diinginkan manusia. Dan mungkin sangat ditakuti. Padahal, bukankah kematian seharusnya ditanggapi secara wajar, sebagaimana wajarnya kita menanggapi kehidupan dan sukacita. Bukankah sebahagian besar mahluk yang hidup harus menghadapi kematian?. Apakah karena kematian itu berarti perpisahan untuk selama-lamanya? Dan bukan seperti dalam permainan motto racer, setelah game over, masih ada pilihan “play again”!

Tapi sejujurnya, jika ditanyakan pada saya saat ini “apakah kamu takut akan kematian?”, saya akan menjawab, “saya tidak takut, yang saya khawatirkan adalah bagaimana caranya saya mati” (bagaimana caranya saya mati?, ah…agak aneh ketika saya mengetikkan kalimat ini, tapi saya tidak menemukan kalimat lain yang lebih tepat).  Apakah karena penyakit? apakah karena kecelakaan? atau saat saya tidur? atau jangan-jangan saya mati dibunuh? atau saya mati karena digelitiki?  ah Tuhan, saya tidak ingin mati dengan merepotkan siapapun! Cukup semasa hidup saja saya sering merepotkan orang-orang. Saya akui saya  sering merepotkan orang lain, sebahagian memang karena saya merasa butuh bantuan, atau sebahagian lagi karena saya senang melihat orang lain merasa direpotkan, atau sebahagian lagi karena memang saya ingin membuat orang lain merasa menjadi pahlawan, yah sekedar memberikan kesempatan pada orang lain untuk berbuat baik gitu :p).  Oh ya selagi saya ingat, sebelum kematian datang menjemput saya, saya ingin mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada semua orang yang pernah merasa direpotkan oleh saya. Ketahuilah bahwa Tuhan tidak pernah tertidur atapun lupa mencatat setiap kebaikan yang kalian lakukan. Haha…ini serius, dari lubuk hati yang terdalam.

Setiap kali saya berulang tahun berulang tanggal dan bulan lahir (setelah bertahun-tahun dibodohi oleh dunia yang kejam ini, akhirnya saya sadar, yang berulang bukan tahunnya, tapi tanggal dan bulannya), saya berharap tidak menemukan ucapan, “happy birthday yah, semoga panjang umur“. Oh no! Sungguh saya tidak mengharapkannya. Saya tidak sama dengan Chairil Anwar! “ingin hidup seribu tahun lagi”. Tua, tanpa gigi, mungkin sudah tak lagi bisa berjalan, tak lagi bisa melakukan apa-apa. Apa yang masih bisa saya lakukan, jika saya hidup seribu tahun lagi? Tidak..saya sangat sangat tidak menginginkan hal itu. Terimakasih! Sudah kenyang!

Perlu saya tegaskan, saya menuliskan ini semua, bukan berarti saya tidak menikmati kehidupan saya! Wow, saya sangat menikmatinya. Saya sangat mensyukurinya. Yang saya tahu bahwa saraf-saraf otak saya masih bekerja dengan baik untuk merespon keadaan “senang” ataupun “sedih”, masih mampu membedakan mana hitam mana putih mana merah kuning hijau biru dan warna lainnya. Intinya, saya tidak sedang mati rasa ketika menuliskan semua ini!

Yah mungkin karena ketika saya mengetikkan tulisan ini, saya sendiri tidak sedang benar-benar berhadapan dengan kematian, sehingga begitu mudah menuliskan kalimat-kalimat yang barusan itu. Mungkin.

****

Ah iya, saya mendadak ingat, beberapa kali ketika saya mendengar kabar “telah berpulang ke rumah Bapa di surga bla…bla…bla…” atau “Inalilahi wainalilahi rojiun bla…bla…bla….”, saya agak bingung mengungkapkan rasa belasungkawa saya. Beberapa kali ketika saya ingin mengucapkan kata-kata “turut berduka cita….”, saya ingat saya malah mengurungkan niat. Dan lebih memilih untuk menjauhi kata-kata tersebut. Ada perasaan bersalah ketika saya mengucapkannya, sekalipun saya memang ikut berduka, tapi tetap saja saya tidak benar-benar merasakan duka yang sama seperti yang pihak keluarga rasakan.

Pernah suatu kali ketika orang tua dari teman saya meninggal dunia, dan saya malah mengatakan “turut bersuka cita, karena Alm telah selesai melakukan tugasnya di dalam kehidupan ini, semoga kita bisa meneladani hal-hal baik dari kehidupan beliau…. “, seorang teman saya malah menyalahkan saya. Dan mengatakan respon saya tidak pada tempatnya. Dan kata-kata tersebut tidak pantas diucapkan pada acara penghiburan. Saya hanya diam waktu itu. Terhanyut dengan pikiran saya sendiri. Dan sejak saat itu sampai hari ini, saya lebih memilih untuk diam, sekalipun saya benar-benar ikut berduka dan merasa kehilangan.

Ada saat-saat tertentu juga saya bertanya-tanya dalam hati, kira-kira apa yang terlintas dipikiran orang yang mengucapkan “saya turut berduka cita….bla..bla..bla..”??? Adakah yang mengalami hal yang mirip dengan saya? Andai saja saya punya kemampuan membaca pikiran orang, tapi sayang saya memang tak bisa membaca pikiran orang dan saya masih belum menemukan jawaban pertanyaan tersebut.

Adakah yang sudi menceritakan pengalamannya yang berhubungan dengan kata-kata “turut berduka cita…”???  Sejujurnya saya sangat ingin tahu, apakah memang emosi dan cara berpikir saya yang salah? atau??….

PS. Jika saya mati nanti, tak usah lah sampai nangis berburai-burai air mata dan merasa kehilangan. Hahahahaaa. Tak usah kirimkan rangkain bunga turut berduka cita, mending duit beli bunganya dikasih ke aku aja sekarang, selagi aku masih hidup *ngarep*. Setelah aku mati nanti, kalau ada harta milikku yang berguna bagi kalian, gunakan saja. Jangan sungkan-sungkan. Apalagi takut. Tenang saja, seandainya pun aku mati dan menjadi hantu aku tidak akan menghantuimu, aku lebih memilih  manusia ganteng dan cantik sebagai korban keisenganku :p

4 Komentar leave one →
  1. Maret 2, 2010 16:23

    nice artikel. saya sepakat “bagaimana caranya saya mati”. kita mati sebagai “pecundang” atau mati sebagai “pahlawan”. tapi terlalu jauh bicara kematian walaupun kita bisa mati 5 menit lagi. yang penting gunakan waktu kita yang tersisa sebaik2nya.
    salam kenal

  2. Maret 2, 2010 16:30

    tidak penting bagaimana kita mati, lebih penting bagaimana kita hidup🙂
    *dicuplik dari film the Last Samurai*

  3. Maret 2, 2010 19:14

    hmm…sepertinya aku sependapat denganmu soal kematian tak perlu ditangisi

  4. julianusginting permalink
    Maret 3, 2010 13:28

    bicara soal kematian, semuanya ditangan Tuhan.yang penting sekarang adalah bagaimana kita memanfaatkan kesempatan kita hidup untuk bener2 memberi yang terbaik PadaNya, karena Dialah Sang Empunya kekuasaan, kemuliaan baik sekarang dan sampai selamanya..aminn…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: