Skip to content

Stress auw auw…

Januari 15, 2009

Ga bisa kita pungkiri berbagai modernisasi yg kita temui pada zaman ini selain membawa dampak positif juga memberikan “gangguan2” pada kita. Gangguan yang mungkin tidak langsung membunuh, tp bisa jadi dampaknya secara tidak langsung ke arah kematian juga. Perasaan tertekan, rasa frustasi, kebosanan pada hal2 yg kita hadapi, lelah yang teramat sangat, perasaan selalu diburu waktu, yah itu lah beberapa gangguan yang saya maksud. Semua gangguan itu mengacu pada stres.

Stres ibarat efek samping dari modernisasi zaman. Polusi sosial yang saat ini banyak terjadi. Suatu epidemi internasional. Yang harus kita ketahui bahwa stres bukanlah keadaan (seperti yg saat ini banyak dipahami orang, melainkan respon terhadap keadaan, respon non spesifik tubuh terhadap tuntutan yg dibebankan kepadanya. Jadi stres bersifat normal. Tanpa adanya stres kita akan “mati”.

Dalam dunia “per-stres-an” ada istilah yang disebut dengan eustres, distres dan hyperstres.

Eustres identik dengan stres positif, stres tipe ini biasanya membuat kita lebih kreatif. Sebagai contoh, sering sekali pada waktu mengerjakan tugas kuliah saya sudah memulai nya beberapa hari sebelum dead line yg ditentukan, tapi yang sering terjadi adalah ditengah-tengah proses mengerjakan tugas itu saya mengalami kebuntuan, akhirnya saya meninggalkannya, tetapi ketika waktu dead line hampir dekat saya malah mampu menyelesaikan tugas itu dalam beberapa jam saja. Contoh lain ketika kita dikejar anjing, mungkin kita bisa melompati pagar, yang bila dalam keadaan “normal” kita tak mampu melakukannya. Jenis stres ini juga lah yang sering dibawa oleh pemimpin perusahaan ke dalam lingkungan kerja dan memaksa karyawan untuk lebih produktif. Sebahagian orang menyukai perasaan ini, meningkatkannya dan bahkan ada yg ketagihan dengan nya.

Ketika respon stres mengarah pada tindakan merusak, saat itulah stres disebut sebagai distres. Inilah kata yang paling tepat untuk menggambarkan stres yang dalam persepsi banyak orang saat ini.

Sedangkan hiperstres adalah volume stres yang berlebihan (wedehh, bukan hanya bangun ruang aja yg punya volum yah.. duh dah kayak pelajaran mate-matika nich). Volume stres ini penting. karena cara kita menghadapi stres bergantung pada berapa banyak stres yang kita alami. Jika jumlahnya masih dapat dikendalikan maka jauhilah distres dan coba mengalihkanya menjadi eustres, tapi jika kita sudah sampai pada titik hiperstres maka mengurangi stres akan lebih penting dari mengelola stres.

12 Komentar leave one →
  1. Januari 15, 2009 11:14

    Jadi gimana dunk? Keberadaan stres bisa mematikan dan dan tanpa stres kita akan ‘mati’. Binun jadinye!:D

    harikuhariini: Kalo binun pegangan to, awas jatoh. Haha. Tanpa glukosa manusia mati, tp kalo kebanyakan jg diabetes. Makanya perlu “controling”.

  2. Januari 15, 2009 12:54

    berarti stres lompat pagar masih MISTERIUS yah… perlu dikejar bagaimana mendapatkannya agar bisa dipakai saat dini.
    Salam

    Harikuhariini says:
    Hihi, ga tau masih misterius, atau saya yg ga tau infonya Pak.

  3. Januari 15, 2009 19:11

    Setiap hari, setiap saat dan setiap moment adalah potensi masalah, Tapi semuanya tergantung kita menyikapinya, ada yang langsung sedih ,kemudian down, tapi ada yang biasa-biasa saja bahkan menikmatinya. Tapi selama kita hidup selalu diperhadapkan dengan hal ini, untuk itu sikapi dengan hati yang jernih dan nikmati dengan syukur. Okay sukses untuk anda.

    Regards, agnessekar.wordpress.com

    Harikuhariini:
    Sama-sama mbak… Semoga mba sekar, mekar selalu…

  4. Januari 15, 2009 23:59

    kalau stress trus melakukan retail therapy gimana????

    alias shopping githuu??😉

    Harikuhariini: Wah, bagus itu. Apalagi kalo shoping nya nraktirin saya nde karo, lebih bagus lg tuh.. Haha. Banyak hal diperbolehkan. benar. tp tdk smua hal membangun…

  5. Januari 16, 2009 2:56

    itulah mas pentingnya managemen stress. supaya stress itu tidak selalu dianggap negatif. padahal stress jika disikapi secara positif justru akan menghasilkan muatan positif

    Harikuhariini: Yup bettuuullllll… 100 buat Mas Guswal…

  6. Januari 16, 2009 14:08

    ada juga stress pemicu gangguan kejiwaan,
    hirup napas dalam-dalam… keluarkan….
    hirup napas dalam-dalam… keluarkan….
    hirup napas dalam-dalam… keluarkan….
    sekarang keluarkan lidahnya, hahaha:mrgreen:

    Harikuhariini: IHhhhh…giginya banyak. Wah, kok ada ikan nya juga. Haha

  7. Januari 16, 2009 16:02

    mari kita ngarang Manajemen Problem’s
    biar tak sempat muncul problem.
    Kita tutup semua model Manajemen yang sudah ada… Kini tak ada lagi masalah….
    hehehahahahaaaaa
    Salam

    Harikuhariini: Yah bapak.. kalo menutup semua model manajemen yang sudah ada, brarti kembali ke titik nol dunks… Sama aja dgn menebang satu pohon hanya untuk membasmi benalu di satu ranting.

  8. Januari 16, 2009 23:10

    hmm…baru saya tahu kalau ada stress yang bisa bikin kreatif.

  9. Januari 17, 2009 11:24

    stres memang bs melanda siapa saja
    tak peduli miskin atau kaya
    stres bisa karena ketiadaan harta,
    terjerat banyak utang
    bahkan tak jarang pula stres
    karena putus cinta…..ehem 🙂

    Harikuhariini: Pengalaman pribadi ya Pak… Hehe…

  10. Januari 18, 2009 1:05

    iya nih, kadang kalau blm sampai pd titik stress, saya suka gak produktif..meski kalau stress-nya lumayan ngganggu, saya juga mulai sebal (nah lo)

    Harikuhariini: wedehhhh….

  11. Januari 18, 2009 13:43

    stress aja dipikirin, makanya gak usah stress,

    Harikuhariini: Hihihi….

  12. Lyon permalink
    Februari 9, 2009 13:13

    Kalo gitu, ga boleh say no to stress juga ya coii?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: