Skip to content

Simalungun Bag I

Desember 14, 2008

Anggo isobut hita Simalungun, ra do sukkun-sukkun halak – aha do ai? Atap pe ija do ai? Marhiteihon ai ma hubahen tulisan on, patugahkon pasal hasimalungunon hubani ganup. (Aduh, bener ga sich ini bahasanya. Hehe, lagi belajar nih). Buat yang ga tau artinya, terjemahannya kira-kira gini: “Kalau kita sebut Simalungun, mungkin ada orang yang akan bertanya-tanya “apa itu Simalungun?”. “What’s this? Karena itu saya membuat tulisan ini untuk memberikan informasi tentang Simalungun.

Sebenarnya itu bukan alasan utama sich, niat hatinya aku pengen lebih tau aja tentang simalungun, habisnya malu ngaku orang simalungun tapi budaya dan bahasanya ga ngerti. (“simalungun au nimu, bahasani pe lang i botoh ham”, gitu sindiran temen-temen aku). dan pengen membagikan apa yg kutau..

Oke let me start…

Suku Simalungun adalah salah satu suku asli dari Sumatera Utara, Indonesia. Orang Batak toba menyebut suku ini sebagai suku “Si Balungu” dari legenda hantu yang menimbulkan wabah penyakit di daerah tersebut, sedangkan orang Karo menyebutnya Timur karena bertempat di sebelah timur daerah mereka. Beberapa sumber menyatakan bahwa leluhur suku ini berasal dari daerah India Selatan (tepatnya suku bangsa Munda dan Napgur). Sumber lain menyatakan simalungun berasal dari suku-suku disekitarnya. Berikut ini adalah nenek moyang orang simalungun:

1. Gelombang pertama: Simalungun tua (Proto Simalungun), diperkirakan datang dari Napgur (India Selatan) dan pegunungan Assam (India Timur) di sekitar abad ke-5 menyusuri Myanmar ke Siam dan Malaka untuk selanjutnya menyeberang ke Sumatera Timur, Aceh, Langkat, daerah Bangun Purba, hingga ke Bandar Kalifah sampai Batubara, dan mendirikan kerajaan Nagur. Kemudian pada suatu hari mereka didesak oleh suku setempat hingga bergerak ke daerah pinggiran danau Toba dan Samosir. Kelompok inilah yang menurunkan marga-marga raja di Simalungun yakni : Sinaga, Saragih, Damanik dan Purba yang pada awalnya tanpa lineage (cabang marga/sub).

 

2. Gelombang kedua: (Deutero Simalungun), datang dari suku-suku di sekitar Simalungun yang bertetangga dengan suku asli Simalungun, secara umum berketurunan dari Samosir dan Toba yang zaman dahulu sewaktu raja-raja masih ada, menyesuaikan marganya dengan marga raja-raja yang sepengetahuan mereka di Toba Samosir ada kaitannya agar menjadi rakyat Simalungun (paruma ni harajaan Simalungun).

 

Pustaha Parpandanan Na Bolag (pustaka Simalungun kuno) mengisahkan bahwa Parpandanan Na Bolag (cikal bakal daerah Simalungun) merupakan kerajaan tertua di Sumatera Timur yang wilayahnya bermula dari Jayu (pesisir Selat Malaka) hingga ke Toba. Sebagian sumber lain menyebutkan bahwa wilayahnya meliputi Gayo dan Alas di Aceh hingga perbatasan sungai Rokan di Riau.

Kenapa “simalungun”???

Ada beberapa versi cerita, kenapa suku nya dinamkan simalungun. “Simalungun” dalam bahasa Simalungun memiliki kata dasar “lungun” yang dapat memiliki makna “sunyi” atau “sedih.”

Sunyi

Pada zaman kerajaan Nagur, terdapat beberapa panglima (Raja Goraha) yaitu masing-masing bernama Saragih, Sinaga dan Purba. Kemudian ketiganya dijadikan menantu oleh Raja Nagur dan selanjutnya mendirikan kerajaan-kerajaan, yaitu: Silou (Purba Tambak), Tanoh Djawa (Sinaga) dan Raya (Saragih).

Selama abad ke-13 hingga ke-15, kerajaan-kerajaan kecil ini mendapatkan serangan dari kerajaan-kerajaan lain seperti Singhasari, Majapahit, Rajendra Chola (India) dan dari Sultan Aceh, Sultan-sultan Melayu hingga Belanda.

Selama periode ini, tersebutlah cerita “Hattu ni Sapar” yang melukiskan kengerian keadaan saat itu di mana kekacauan diikuti oleh merajalelanya penyakit kolera hingga mereka menyeberangi “Laut Tawar” (sebutan untuk Danau Toba) untuk mengungsi ke pulau yang dinamakan Samosir yang merupakan kependekan dari Sahali Misir (bahasa Simalungun, artinya sekali pergi).

Saat pengungsi ini kembali ke tanah asalnya (huta hasusuran), mereka menemukan daerah Nagur yang sepi, sehingga dinamakanlah daerah kekuasaan kerajaan Nagur itu sebagai Sima-sima ni Lungun (bahasa Simalungun untuk daerah yang sepi) dan lama kelamaan menjadi Simalungun.

Sedih

Pada masa kedatangan Belanda, raja-raja di daerah Simalungun mengadakan perlawanan. Raja yang terkenal mengadakan perlawanan diantaranya adalah Raja Rondahaim dari Raya dan Raja Naualuh (Nawaluh) dari Siantar. Karena keterbatasan di bidang persenjataan dan logistik, akhirnya perlawanan raja-raja tersebut dapat diakhiri Belanda dengan penandatanganan Korte Verklaring (Perjanjian Pendek) tahun 1907. Akibat penandatanganan perjanjian ini, raja-raja tersebut merasakan perasaan sedih karena terpaksa menandatangani dokumen tersebut padahal tidak bersedia tunduk pada pemerintah Belanda, dan bersepakat mengangkat nama Simalungun sebagai nama yang mewakili perasaan sedih mereka.

Beberapa sumber juga menyatakan bahwa nama Simalungun itu diberikan oleh orang luar karena penduduknya sangat jarang dan tempatnya sangat berjauhan antara yang satu dengan yang lain. Kata Simalungun sendiri baru digunakan sebagai nama wilayah pemerintahan oleh pemerintahan kolonial Belanda.

 

Hihi, sampai di sini saja dulu ya. Lanjutannya ntar aku buat…

8 Komentar leave one →
  1. dani permalink
    Desember 20, 2008 7:07

    Batak kali lah!!

    Huahahahaaa…

    I’m proud to be a batakness

  2. sipayung permalink
    Desember 29, 2008 15:43

    Kok sipayung ga ada?
    Sipayung kan masuk simalungun juga?
    Di tunggu lanjutannya..
    Salam kenal, ise do on? Patugah ham ma dirim?

    horas bot..
    Sipayung itu turunannya damanik bkn?
    Ntar deh dilanjutin lg. Hihi. Lagi sibuk liburan euy.. Halahh

  3. Januari 15, 2009 12:04

    Pinjam yg diatas. Patugah ham ma dirim!

    harikuhariini: Epenka? (=penting ya?). Baiklah..menyusul deh..Hihi.

  4. Januari 17, 2009 20:05

    ok..mantap tulisan on…
    blog-blog na sisongon on ma namin sikembang honon ta..

    salam parhorasan….

    http://parlinsinaga.com

  5. Januari 22, 2009 22:24

    Anggo na hu botoh, sipayung ai ma turunan ni silalahi. Halani i simalungun jadi ma sidea ai sipayung…
    Anggo na asli simalungun ai ma SISADAPUR(Sinaga, Saragih, Damanik, Purba)
    Nai ma lobei…diatei tupa ma…

    Harikuhariini: Ai do bot… Pas do ai! diatei tupa ma bamu.. Hihihi… Ayo siapa lagi yg mau nambahin (duhh, kalo ini di bhs simalungunkan apa ya? hehe..)

  6. sinaga par purbatua etek permalink
    Februari 26, 2009 18:34

    usul… kalau bisa semua cerita simalungun dan adat simalungun selalu di tampilkan agar anak rantau bisa mengerti tentang adat budaya simalungun kalau bukan kita siapa lagi yang mencintai budaya kita. bravo simalungun. diate tupa
    Harikuhariini: Oh iya ya, belom bayar hutang saya… hufff… Hehehe, tapinya aku juga anak rantau lho.. jd ga tau banyak ttg simalungun,,,

  7. david saragih permalink
    Oktober 31, 2009 20:12

    saya ngak tau persis tapi yg saya dengar dari ortu saya , apa yg kamu tulis itu 90 % sama dengan apa yg mereka ceritakan sama saya. terusannya …..

  8. marison purba girsang permalink
    April 4, 2012 16:12

    lang sosok,,, simalungun lang keturunan ni toba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: