Skip to content

The freedom writers

November 17, 2008

Freedom writersErin Grunwell (Hilary Swank), seorang guru bahasa Inggris baru, datang dengan semangat dan dedikasi yang tinggi terhadap pendidikan. Tanpa sepengetahuannya, ternyata dia sedang menuju goa singa. Tanpa pengalaman mengajar sebelumnya, tapi harus menghapi kelas yang “luar biasa”. Luar biasa kacau maksudnya.

Masih hari pertamanya mengajar dia mengalami shock, menghadapi kelas yang isinya adalah anak-anak yang dianggap dan menganggap diri mereka sendiri tidak memiliki harapan, kumpulan remaja yang kehilangan semangat merintis masa depan akibat kemiskinan, perang antar geng dan diskriminasi rasisme. Murid2 tersebut memang tidak berniat untuk bersekolah. Mereka sekolah karena sistem yang dibuat pemerintah, membuat mereka harus sekolah!!.

Suatu hari saat murid-muridnya membuat keributan (lagi lagi masalah rasisme), Erin Grunwell berbicara “sedikit keras” pada murid2nya untuk mengungkapkan rasa “muak” nya. Sang guru menyatakan bahwa mereka (muridnya) belum ada apa-apanya. Gangster, ras, yang mereka bela mati-matian, belum ada apa-apanya dibandingkan dengan Holocaust, ketika pada Perang Dunia ke-2 Nazi Jerman membantai habis-habisan kaum Yahudi di Eropa.

Salah satu adegan dalam film Freedom writersPerjalanan Erin tak mulus, tapi intinya Erin benar-benar membuktikan dedikasinya, walau tak satupun rekan2nya mendukung tindakannya, Erin rela melakukan apa saja, karna dia tahu apa yang sedang dia kerjakan. Erin rela membeli buku2 bacaan untuk murid-muridnya dengan dana dari sakunya sendiri (karena murid2 dikelas Erin dianggap sebagai kumpulan orang-orang yang tak menghargai ilmu dan tak layak mendapat ilmu, sistem disekolah itu tak memberikan kesempatan kedua pada orang-orang yang pernah gagal), Erin tak ragu-ragu mengeluarkan duit dari dompetnya untuk mengajak murid2nya studi tour, menraktir murid2nya, memberikan kesempatan pada muridnya untuk bertemu dengan tokoh2 saksi Holocaust. Apakah Erin dlm film tersebut adalah tokoh yang berduit? Oh tidak teman!! Dia harus bekerja di 2 tempat lain yang berbeda (kerja di hotel ama kerja di toko bra) untuk membiayai semua itu. Erin berhasil mengatakan pada murid2nya bahwa hidup mereka berharga, Erin mengatakan hal itu melalui tindakannya, membayar mahal untuk mengembalikan masa depan murid2nya.

Erin membiasakan murid2nya untuk menulis diary setiap hari. Dan pada akhirnya kumpulan diary2 mereka itu dirilis menjadi sebuah buku yang berjudul The Freedom Writers Diary. (Buku yang masih terkenal sampai sekarang)

Kisah yang begitu menarik buatku, kecintaan Erin pada murid2nya ternyata telah membangkitkan kecemburuan pada diri suaminya. Erin berada pada dua pilihan, murid2nya atau suaminya!! Hehe, Erin memilih keduanya, sayangnya Erin hanya punya hak untuk memilih, bkn hak untuk menentukan. Suaminya meninggalkannya. (Hihi…Ya Tuhan, jika Kau berikan kepadaku kesempatan untuk menjalani cinta yang kudus dalam suatu ikatan pernikahan, biarlah hanya visi Mu yang membangkitkan ikatan cinta itu. Amin)

Pada akhirnya, setumpul-tumpulnya pisau jika diasah akan tajam juga, sekeras-kerasnya karang jika ditetesi air terus menerus maka tetesan air itu akan meninggalkan bekas. Sakit hati, kepahitan, keras kepala, ego diri yang tinggi akhirnya luluh lantak oleh pengorbanan, keseriusan dan ketulusan. Erin behasil mengubah cara pandang dan cara hidup murid-muridnya, DARI ZERO MENJADI HERO!!

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: