Skip to content

Gie

November 15, 2008

Gie

Film ini menggambarkan petualangan Gie mencapai tujuannya untuk menggulingkan rezim Sukarno, dan perubahan-perubahan dalam hidupnya setelah tujuan ini tercapai.

Setau aku sih, film ini diangkat dari buku “Catatan Seorang Demonstran” karya Gie sendiri (belum baca juga sich aku..hihi..), tapi ditambahkan beberapa tokoh fiktif supaya ceritanya lebih dramatis ceunah.

Tokoh utama dalam film ini, Soe Hok Gie, dibesarkan dikeluarga Tionghoa yang tidak begitu kaya dan tinggal di Jakarta. Minat Gie terhadap konep-konsep idealis yang sudah terlihat sejak ia SMA berhasil menumbuhkan rasa kesetiakawanan, semangat perjuangan dan kepedulian terhadap tanah air. Idealisme yang tinggi pula yang menuntun Gie pada mimpi “mewujudkan Indonesia yang adil dan berdasar pada kebenaran murni” (ga ngerti juga sich kebenaran murni yg dimaksud itu kebenaran yang seperti apa..hehe..).

Semboyan Gie yang mengesankankan berbunyi, “Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan”. Sahabat Gie, Tan Tjin Han dan Herman Lantang bertanya “Untuk apa semua perlawanan ini?”. Pertanyaan ini dengan kalem dijawab berupa penjelasan akan kesadarannya bahwa untuk memperoleh kemerdekaan sejati dan hak-hak yang dijunjung sebagaimana mestinya, ada harga yang harus dibayar, dan memberontaklah caranya.

Masa remaja dan kuliah Gie dijalani di bawah rezim pelopor kemerdekaan Indonesia Bung Karno yang ditandai dengan konflik antara militer dengan PKI. Gie dan teman-temannya bersikeras bahwa mereka tidak memihak golongan manapun. Meskipun Gie menghormati Sukarno sebagai
founding father negara Indonesia, Gie Untuk memperoleh kemerdekaan sejati dan hak-hak yang dijunjung sebagaimana mestinya, ada harga yang harus dibayar, dan memberontaklah caranyabegitu membenci pemerintahan Sukarno yang diktator. Gie tahu banyak tentang ketidakadilan sosial, penyalahgunaan kedaulatan, dan korupsi di bawah pemerintahan Sukarno, dan dengan tegas bersuara menulis kritikan-kritikan yang tajam di media.

Kebenciannya juga meluap saat melihat banyak mahasiswa berkedudukan senat bercuap-cuap mengumbar janji-janji manis dan memperalat situasi politik untuk memperoleh keuntungan pribadi (Wah begini nih calon2 pemimpin masa depan..). Penentangan ini memenangkan banyak simpati bagi Gie, tetapi juga memprovokasikan banyak musuh. Banyak interest group berusaha melobi Gie untuk mendukung kampanyenya, sementara musuh2 Gie juga bersemangat menggunakan setiap kesempatan untuk mengintimidasi dirinya.

Seperti kehidupan anak muda pada umumnya, Gie dan teman-temannya menghabiskan waktu luang mereka naik gunung dan menikmati alam Indonesia yang asri (Indonesia tempoe doloe..) dengan Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) UI. Selain itu, mereka juga gemar menonton dan menganalisa film. menikmati kesenian tradisional, dan menghadiri pesta-pesta.

Ira dan Sinta adalah dua perempuan yang mewakili wanita-wanita dalam hidup Gie. Ira, wanita muda yang cerdas dan hidup dengan semangat pejuang untuk impian-impian idealistis (yang juga dimiliki Gie), adalah sahabat dan pendukung Gie yang paling setia dan selalu hadir, baik saat Gie sedang kerja maupun main. Dalam film sich sempat terlihat tanda-tanda asmara antara Gie ama Ira, tetapi baru sekali kencan keduanya sudah tidak berani melanjutkannya menjadi sebuah kisah cinta.

Selang beberapa waktu, muncullah seorang gadis menawan bernama Sinta. Orangtua Sinta yang berada mengagumi karya-karya tulis Gie. Kalo yang ini kelihatan jelas emang keduanya saling ada hati. Tapi kalo yang aku tangkep sich sebenarnya Sinta sekadar suka ditemani Gie dan bangga menjadi pacar seorang tokoh yang dihormati, dan tidak betul-betul peduli dengan hal-hal yang menjadi obsesi hati Gie. Sebaliknya, Gie terkesan agak2 kaku, tidak tahu cara yang paling efektif untuk mengambil hati Sinta. Kehadiran Sinta menimbulkan kerikuhan antara Gie dengan Ira. (hehe, saat persabatan berbaur dengan eros. Memang sulit untuk agave ya)

Tan Tjin Han sudah lama mengagumi keuletan dan keberanian Soe Hok Gie, hanya mengagumi, dirinya sendiri tidak memiliki semangat pejuang yang sama. Dalam usia berkepala dua, kedua sahabat ini dipertemukan kembali meski hanya sebentar. Gie menemukan bahwa Tan telah terlibat PKI tetapi tidak tahu konsekuensi apa yang sebenarnya menantinya. Gie mendesak Tan untuk menanggalkan segala ikatan dengan PKI dan bersembunyi, tetapi Tan tidak menerima desakan tersebut.

Tokoh-tokoh tambahan lainnya antara lain Denny (salah seorang sahabat Gie yang periang, lucu, dan rame), Jaka (tokoh PMKRI yang kemungkinan besar adalah Cosmas Batubara) dan Santi (seorang pelacur yang diperkenalkan kepada Gie oleh para cowok yang berusaha mendorong Gie untuk memburu potensi berkembangnya persahabatannya dengan Ira menjadi kisah cinta).

Pokoknya, yang ngaku anak muda generasi bangsa wajib nonton film ini deh…

One Comment leave one →
  1. Juli 14, 2010 16:53

    saya suka film ini … buku ny juga suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: