Lanjut ke konten

Batak toba, keturunan Israel yg hilang?

Desember 7, 2008

Pendahuluan

Bangsa Israel kuno terdiri dari 12 suku. Setelah raja Salomo wafat, Israel pecah menjadi dua bagian. Bagian Selatan terdiri dari dua suku yaitu Yehuda dan Benjamin yang kemudian dikenal dengan nama Yehuda (Yahudi). Kerajaan Selatan beribukota Yerusalem, dan daerahnya dinamai Yudea. Bagian utara terdiri dari 10 suku, disebut sebagai Kerajaan Israel.

Dalam perjalanan sejarah, 10 suku tersebut kehilangan identitas kesukuan mereka. Kerajaan utara Israel tidak lama bertahan sebagai sebuah negara dan hilang dari sejarah. Konon ketika penaklukan bangsa Assyria, banyak orang Kerajaan Utara Israel yang ditawan dan dibawa ke sebelah selatan laut Hitam sebagai budak. Sebagian lagi lari meninggalkan asalnya untuk menghindari perbudakan. Sementara itu Kerajaan Yehudah tetap exist hingga kedatangan bangsa Romawi. Setelah pemusnahan Yerusalem oleh bala tentara Romawi yang dipimpin oleh jenderal Titus, orang-orang Yehudah pun banyak yang meninggalkan negerinya dan menetap di negara lain, terserak diseluruh dunia.

Jauh sebelum itu, ketika masa pembuangan ke Babilon berakhir dan orang-orang Yehudah diijinkan kembali ke negerinya, sedangkan sepuluh suku Israel dari Kerajaan utara memilih tidak pulang tetapi meneruskan petualangan kearah Timur. Demikian juga dengan mereka yang diperbudak di selatan laut Hitam, setelah masa perbudakan selesai, tidak diketahui kemana mereka pergi melanjutkan hidup. Dengan demikian banyak diantara bangsa Israel kuno kemudian kehilangan identitas mereka sebagai orang Israel. Ada sekelompok penduduk di daerah Tiongkok barat, diterima sebagai puak Cina, tetapi secara umum profil wajah mereka agak berbeda dengan penduduk Cina pada umumnya. Perawakan mereka lebih besar, hidung agak mancung, namun berkulit kuning dan bermata sipit. Mereka menyembah Allah yang bernama Yahwe. Sangat mungkin mereka adalah salah satu dari keturunan sepuluh suku Israel yang hilang yang telah kawin campur dengan penduduk lokal sehingga kulit dan mata menjadi seperti penduduk asli.

Di negeri Israel ada sekelompok kecil orang Israel yang berkulit hitam. Mereka adalah suku Falasha, yang sebelum berimigrasi ke Israel hidup di Etiopia selama ratusan generasi. Fisik mereka persis seperti Negro dengan segala spesifikasinya yaitu kulit hitam legam, bibir tebal, rambut keriting, dll. Mereka mengklaim diri mereka sebagai keturunan Israel atau disebut Beta Israel, dan dengan bukti-bukti yang dimiliki, mereka mampu memenuhi seluruh kriteria yang dituntut oleh Pemerintah Israel yang merupakan syarat mutlak supaya diakui sebagai Israel perantauan.

Setelah memperoleh pengakuan sebagai keturunan Israel, sebagian dari mereka kembali ke Tanah Perjanjian sekitar 15 tahun lalu dengan transportasi yang disediakan oleh Pemerintah Israel. Itulah sebabnya mengapa ada Israel hitam. Mereka seperti orang Negro karena intermarriage dengan perempuan-perempuan lokal sejak kakek moyang mereka pergi ke Ethiopia. Kita tahu bahwa bahwa Ethiopia adalah salah satu negara yang penduduknya mayoritas Kristen yang paling tua didunia. Ingat sida-sida yang dibaptis oleh Filipus dalam Kisah 8:26-40. Bahkan sebelum era Kekristenan pun sudah ada penganut Yudaisme disana.Walaupun banyak yang kembali, sebahagian lagi tetap memilih menetap di negeri itu, dan merekalah yang menjaga dan memelihara Tabut Perjanjian yang konon ada disana.

Lalu bagaimana ceritanya hingga batak toba jg dimungkinkan sebagai keturunan Israel yang terhilang??

Menurut kamus umum bahasa Indonesia Batak mempunyai arti (sastra), adalah petualang, pengembara, sedang membatak berarti berpetualang, pergi mengembara. Walaupun demikian orang Batak dikenali dengan sikap dan tindakannya yang khas, yaitu terbuka, keras dan apa-adanya.

Hosea 19:17: Allahku akan membuang mereka (ISRAEL YANG MURTAD), sebab mereka tidak mendengar Dia, maka mereka akan MENGEMBARA diantara bangsa-bangsa.

Mengapa di Sumatera, karena Sumatera adalah salah satu pulau di Hindia yang berdekatan dengan India. Bandingkan Yesaya 11:11: Pada waktu Tuhan akan mengangkut pula tangaNya untuk menebus sisa-sisa umatNya (Bangsa ISRAEL YANG MURTAD) yang tertinggal di Asyur, dan di Mesir, di Patros, Ethiopia, dan di Elam, di Sinear, di Hamat dan di Pulau-pulau di Laut.

Seperti yang diungkapkan oleh seorang anthropolog dan juga pendeta dari Belanda, profesor Van Berben, dan diperkuat oleh prof Ihromi, guru besar di UI (Universitas In 782 donesia), bahwa tradisi etnik Tapanuli (Batak Toba) sangat mirip dengan tradisi bangsa Israel kuno. Pendapat itu didasarkan atas alasan yang kuat setelah membandingkan tradisi orang Tapanuli dengan catatan-catatan tradisi Israel dalam Alkitab yang terdapat pada sebahagian besar kitab Perjanjian Lama, dan juga dengan catatan-catatan sejarah budaya lainnya diluar Alkitab.

Beberapa peneliti dari etnis Tapanuli juga yakin bahwa Batak adalah keturunan Israel yang sudah lama terpisah dari induk bangsanya, tapi karena intermarriage dengan penduduk lokal ditempat mana mereka bermukim membuat orang Batak secara fisik menjadi seperti orang Melayu.

Seorang Batak Toba, yang sudah lebih dari 20 tahun tinggal di Israel dan menjadi warga negara, berusaha mengumpulkan data-data untuk pembuktian. Setelah merasa sudah cukup, dia mengajukannya ke pemerintah Israel yang waktu itu masih dipimpin oleh PM Yitzak Rabin. Tetapi tenyata data tersebut belum bisa memenuhi seluruh kriteria. Pemerintah Israel kemudian meminta agar kekurangannya dicari hingga dapat mencapai 100 persen supaya pengakuan atas etnis Batak sebagai orang Israel diperantauan dapat diberi. Konon kekurangan itu terutama terletak pada silsilah yang banyak missing links-nya, dan menelusuri silsilah itu agar sempurna sama sulitnya dengan menyelam ke perut bumi. Peneliti berharap suatu waktu pada masa depan, Pemerintah Israel bisa saja mengubah kriterianya dengan menjadi lebih lunak dan etnik Batak diterima sebagai bahagian yang terpisah dari mereka.

Persamaan Batak Toba dan Israel

Alkitab adalah buku yang sangat layak serta absah sebagai kitab pedoman untuk mencari data budaya Israel kuno yang menyatu dengan unsur sejarah dan spiritual.

Beberapa diantara kesamaan tradisi Batak Toba dengan tradisi Israel kuno adalah sebagai berikut:

1). Pemeliharaan silsilah (Tarombo dan Marga); Semua orang Tapanuli, terutama laki-laki, dituntut harus mengetahui garis silsilahnya. Demikian pentingnya silsilah, sehingga siapa yang tidak mengetahui garis keturunan kakek moyangnya hingga pada dirinya dianggap na lilu (tidak tahu asal-usul) yang merupakan cacat kepribadian yang besar.
Bangsa Israel kuno juga memandang silsilah sebagai sesuatu yang sangat penting. Alkitab, sejak Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru sangat banyak memuat silsilah, terutama silsilah dari mereka yang menjadi figur penting, termasuk silsilah Yesus Kristus yang ditelusuri dari pihak bapak(angkat) Nya Yusuf, yang keturunan Daud dan pihak ibuNya (Maria).
Catatan: MARGA adalah kelompok kekerabatan menurut garis keturunan ayah (patrilineal) .Sistem kekerabatan patrilineal menentukan garis keturunan selalu dihubungkan dengan anak laki laki. Seorang ayah merasa hidupnya lengkap jika ia telah memiliki anak laki-laki yang meneruskan marganya. Sesama satu marga dilarang saling mengawini, dan sesama marga disebut dalam Dalihan Na Tolu disebut Dongan Tubu. Menurut buku “Leluhur Marga Marga Batak”, jumlah seluruh Marga Batak sebanyak 416, termasuk marga suku Nias. Catatan: Marga dalam kamus Inggris Hassan Shadily dan John Echols adalah CLAN, yakni Suku, Marga, dan KAUM. Dalam arti yang lain, Marga bias berarti Warga, dari bahasa India (Sansekerta, kemungkinannya). Jadi, kalau ada orang Batak bermarga Tampubolon, berarti dia berasal dari KAUM TAMPUBOLON. Bandingkan dengan KAUM LEWI, KAUM YEHUDAH, KAUM SIMEON dan lain-lain. TAROMBO adalah silsilah, asal-usul menurut garis keturunan ayah. Dengan tarombo seorang Batak mengetahui posisinya dalam marga. Bila orang Batak berkenalan pertama kali, biasanya mereka saling tanya Marga dan Tarombo. Hal tersebut dilakukan untuk saling mengetahu apakah mereka saling mardongan sabutuha (semarga) dengan panggilan “ampara” atau “marhula-hula” dengan panggilan “lae/tulang” . Dengan tarombo, seseorang mengetahui apakah ia harus memanggil “Namboru” (adik perempuan ayah/bibi), “Amangboru/Makela” ,(suami dari adik ayah/Om), “Bapatua/ Amanganggi/ Amanguda” (abang/adik ayah), “Ito/boto” (kakak/adik), PARIBAN atau BORU TULANG (putri dari saudara laki laki ibu) yang dapat kita jadikan istri, dst.


2). Perkawinan yang ber-pariban; Ada perkawinan antar sepupu yang diijinkan oleh masyarakat Batak, tapi tidak sembarang hubungan sepupu. Hubungan sepupu yang diijinkan untuk suami-istri hanya satu bentuk, disebut marpariban. Cukup report menerangkan hal ini dalam bahasa Indonesia karena bahasa ini tidak cukup kaya mengakomodasi sebutan hubungan perkerabatan dalam bahasa Batak. Yang menjadi pariban bagi laki-laki ialah boru ni tulang (anak perempuan dari saudara laki-laki ibu). Sedangkan yang menjadi pariban bagi seorang gadis ialah anak ni namboru (anak laki-laki dari saudara perempuan bapa). Hanya hubungan sepupu yang seperti itu yang boleh menjadi suami-isteri. Karena suku Batak penganut patriarch yang murni, ini adalah perkawinan ulang dari kedua belah pihak yang sebelumnya sudah terjalin dengan perkawinan.
Mari kita bandingkan dengan Alkitab. Pada kitab Kejadian, Yakub menikah dengan paribannya, anak perempuan Laban yaitu Lea dan Rahel. Laban adalah tulang dari Yakub. (Saudara laki-laki dari Ribka, ibu dari Yakub). Didunia ini sepanjang yang diketahui hanya orang Israel kuno dan orang Batak yang sekarang memegang tradisi hubungan perkawinan seperti itu.

3). Pola alam semesta; Orang Batak membagi tiga besar pola alam semesta, yaitu banua ginjang (alam sorgawi), banua tonga (alam dimensi kita), dan banua toru (alam maut). Bangsa Israel kuno juga membagi alam dengan pola
yang sama.

4). Kredibilitas; Sebelum terkontaminasi dengan racun-racun pikiran jaman modern, setiap orang Batak, terutama orang tua, cukup menitipkan sebuah tempat sirih (salapa atau gajut), ataupun sehelai ulos, sebatang tongkat, atau apa yang ada pada dirinya sebagai surat jaminan hutang pada pihak yang mempiutangkan, ataupun jaminan janji pada orang yang diberi janji. Walaupun nilai ekonomis barang jaminan bisa saja sangat rendah tetapi barang tsb adalah manifestasi dari martabat penitip, dan harus menebusnya suatu hari dengan merelealisasikan pembayaran hutang ataupun janjinya. Budaya Israel kuno juga demikian. Lihat saja Yehuda yang menitipkan tongkat kepada Tamar sebagai jaminan janji (Kej. 38).

5). Hierarki dalam pertalian semarga; Dalam budaya Batak, jika seorang perempuan menjadi janda, maka laki-laki yang paling pantas untuk menikahinya ialah dari garis keturunan terdekat dari mendiang suaminya. Ini dimaksudkan agar keturunan perempuan tsb dari suami yang pertama tetap linear dengan garis keturunan dari suami yang kedua. Misalnya, seorang janda dari Simanjuntak sepatutnya menikah lagi adik lak-laki almarhum (bandingkan dengan Rut 1:11). Jika tidak ada adik laki-laki kandung, sebaiknya menikah dengan saudara sepupu pertama dari mendiang yang dalam garis silsilah tergolong adik. Jika tidak ada sepupu pertama, dicari lagi sepupu kedua. Demikian seterusnya urut-urutannya. Hal semacam ini diringkaskan dalam ungkapan orang Batak : “Mardakka do salohot, marnata do na sumolhot. Marbona do sakkalan, marnampuna do ugasan”. Dalam tradisi Israel kuno, kita dapat membaca kisah janda Rut dan Boas. Boas masih satu marga dengan mendiang suami Rut, Kilyon. Boas ingin menikahi Rut, tapi ditinjau dari kedekatannya menurut garis silsilah, Boas bukan pihak yang paling berhak. Oleh sebab itu dia mengumpulkan semua kerabat yang paling dekat dari mendiang suami Rut, dan mengutarakan maksudnya. Dia akan mengurungkan niatnya jika ada salah satu diantara mereka yang mau menggunakan hak adat-nya, mulai dari pihak yang paling dekat hubungan keluarganya hingga yang paling jauh sebelum tiba pada urutan Boas sendiri. Ya, mardakka do salohot, marnata do na sumolhot. (Baca kitab Rut).

6). Vulgarisme; Setiap orang dapat marah. Tetapi caci maki dalam kemarahan berbeda-beda pada tiap-tiap etnik. Orang Amerika terkenal dengan serapah: son of a bitch, bastard, idiot, dll yang tidak patut disebut disini. Suku-suku di Indonesia ini umumnya mengeluarkan makian dengan serapah : anjing, babi, sapi, kurang ajar, dll. Pada suku Batak makian seperti itu juga ada, tetapi ada satu yang spesifik. Dalam sumpah serapahnya seorang Batak tak jarang memungut sehelai daun, atau ranting kecil, atau apa saja yang dapat diremuk dengan mudah. Maka sambil merobek daun atau mematahkan ranting yang dipungut/dicabik dari pohon dia mengeluarkan sumpah serapahnya: “Sai diripashon Debata ma au songon on molo so hudege, hubasbas, huripashon ho annon !!!”. Terjemahannya kira-kira begini: “Beginilah kiranya Tuhan menghukum aku kalau kamu tidak kuinjak, kulibas, kuhabisi !!!”. Robeknya daun atau patahnya ranting dimaksudkan sebagai simbol kehancuran seterunya. Orang-orang Israel kuno juga sangat terbiasa dengan sumpah serapah yang melibatkan Tuhan didalamnya. Vulgarisme seperti ini terdapat banyak dalam kitab Perjanjian Lama, diantaranya serapah Daud pada Nabal. (1 Sam. 25, perhatikan ayat 22 yang persis sama dengan sumpah serapah orang Batak).

7). Nuh dan bukit Ararat; Ada beberapa etnik didunia ini yang mempunyai kisah banjir besar yang mirip dengan air bah dijaman Nuh. Tiap etnik berbeda alur ceritanya tetapi polanya serupa. Etnik Tapanuli juga punya kisah tentang air bah, tentu saja formatnya berbeda dengan kisah Alkitab. Apabila orang-orang yang sudah uzur ditanya tentang asal-usul suku Batak, mereka akan menceritakan mitos turun temurun yang mengisahkan kakek moyang orang Batak diyakini mapultak sian bulu di puncak bukit Pusuk Buhit.Pusuk Buhit adalah sebuah gunung tunggal yang tertinggi di Tapanuli
Utara, dipinggiran danau Toba. Pusuk Buhit sendiri artinya adalah puncak gunung. Pusuk Buhit tidak ditumbuhi pohon, jelasnya tidak ada bambu disana. Yang ada hanya tumbuhan perdu, ilalang, dan rumput gunung. Bambu–dari mana kakek moyang keluar–menurut nalar mendarat di puncak gunung itu dan mereka keluar dari dalamnya setelah bambunya meledak hancur. Mengapa ada bambu pada puncak Pusuk Buhit yang tandus dan terjal? Tentu saja karena genangan air yang mengapungkannya, yang tak lain adalah banjir besar.
Dapat dipahami mengapa jalan cerita menjadi seperti itu, karena setelah ribuan tahun terpisah dari induk bangsanya, narasi jadi berbeda. Bahtera Nuh berubah menjadi sebentuk perahu bambu berbentuk pipa yang kedua ujungnya ditutup, dan Bukit Ararat berubah menjadi Pusuk Buhit Cool.

8. Mangokal Holi atau Eksumasi (Pemindahan tulang belulang); Jika Pemerintah mengubah fungsi lahan pekuburan, wajar jika tulang-belulang para almarhum/ah dipindahkan oleh pihak keluarga yang terkait. Alasan ini sangat praktis. Bagi orang Tapanuli, penggalian tulang belulang (eksumasi) dari kerabat yang masih satu dalam garis silsilah dan dikuburkan didaerah lain adalah praktek yang sangat umum hingga sekarang. Sering alasannya hanya untuk kepuasan batin belaka walaupun biayanya sangat mahal karena termasuk dalam kategori perhelatan besar. Pada bangsa Israel kuno hal semacam adalah kebiasaan umum. Sejarah sekuler menuturkan bahwa tulang belulang Yusuf dibawa dari Mesir ketika bangsa ini keluar dari sana. Juga dalam kitab lain dalam Perjanjian Lama, sekelompok masyarakat berniat memindahkan tulang belulang dari satu pekuburan (walaupun kemudian dihalangi oleh seorang nabi).

9). Peratap/Ratapan; Adalah wajar bagi jika satu keluarga menangis disekeliling anggota keluarga / kerabat yang meninggal dan terbujur kaku. Mereka menangisi si mati, dan seseorang meratapinya. Meratap berbeda dengan menangis. Meratap dalam bahasa Tapanuli disebut mangandung (menangis sambil melantunkan bait-bait syair kematian dan syair kesedihan hati). Karena sepenuhnya terikat dengan komponen syair-sayir maka mangandung salah satu bentuk seni yang menuntut keahlian.
Untuk memperoleh kepiawaian harus belajar. Bahasa yang digunakan sangat klasik, bukan bahasa sehari-hari. Setiap orang-tua yang pintar mangandung akan mendapat pujian dan sering diharapkan kehadirannya pada setiap ada kematian. Di desa-desa, terutama di daerah leluhur, Tapanuli, tidak mengherankan kalau seseorang orang yang tidak ada hubungan keluarga dengan orang yang meninggal, bahkan tidak dikenal oleh masyarakat setempat, namun turut mangandung disisi mayat. Masyarakat mendukung hal seperti itu. Kata-kata yang dilantukan dalam irama tangisan sangat menyentuh kalbu. Tak jarang pihak keluarga dari si mati memberi pasinapuran (ang pao) kalau si peratap tersebut pintar, sekedar menunjukkan rasa terima kasih. Peratap-peratap dari luar ini sebenarnya tidak menangisi kepergian si mati yang tidak dikenalnya itu. Alasannya untuk turut meratap adalah semata-mata mengeluarkan kesedihan akibat kematian keluarga dekatnya sendiri pada waktu yang lalu, dan juga yang lebih spesifik yaitu mengekspresikan seni mangandung itu. Ini sangat jelas dari ungkapan pertama sebelum melanjutkan andung-andungnya: “Da disungguli ho ma sidangolonhi tu sibokka nahinan”. Sibokka nahinan adalah anggota keluarga si-pangandung yang sudah meninggal sebelumnya. Selanjutnya dia akan lebih banyak berkisah tentang almarhum familinya itu. Bagaimana dengan bangsa Israel? Dari sejarah diketahui bahwa ketika Yusuf (perdana menteri Mesir) meninggal, sanak keluarganya membayar para peratap untuk mangandung. Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru berkali-kali mencatat kata -kata ratapan, meratap, peratap. Kitab Ratapan yang ditulis oleh raja Salomo, dalam praktek Israel kuno adalah syair-syair yang dilantunkan sambil mangandung, kendati bukan pada acara kematian.

10). Hierarki pada tubuh; Dalam budaya Batak, kepala adalah anggota tubuh yang paling tinggi martabatnya. Menyentuh kepala seseorang dengan tidak disertai permintaan maaf yang sungguh-sungguh, bisa berakibat parah. Sebaliknya anggota tubuh yang paling rendah derajatnya ialah telapak kaki. Adalah penghinaan besar jika seseorang berkata kepada seseorang lain: “Ditoru ni palak ni pathon do ho” (“Kau ada dibawah telapak kakiku ini”), sambil mengangkat kaki memperlihatkan telapak kakinya pada seteru. Penghinaan seperti ini hanya dilontarkan oleh seseorang yang amarahnya sudah memuncak dan sudah siap berkelahi. Pada zaman dulu, dalam setiap pertemuan, telapak kaki selalu diusahakan tidak nampak ketika duduk bersila. Pada bangsa-bangsa Semitik tertentu di Timur Tengah, tradisi semacam ini masih tetap dijaga hingga sekarang karena memperlihatkan telapak kaki pada orang lain adalah pelanggaran etika yang berat, karena telapak kaki tetap dianggap anggota tubuh yang paling hina derajatnya.

11). Tangan kanan dan sisi kanan; Dalam budaya Tapanuli, sisi kanan dan tangan kanan berbeda tingkat kehormatannya dengan sisi kiri dan tangan kiri. Jangan sekali-kali berinteraksi dengan orang lain melalui tangan kiri jika tidak karena terpaksa. Itupun harus disertai ucapan maaf. Dalam Alkitab banyak tercatat aktivitas sisi `kanan’ yang melambangkan penghormatan atau kehormatan. Yusuf sang perdana menteri Mesir memprotes ayahnya Yakub yang menyilangkan tangannya ketika memberkati Manasye dan Efraim (bacaKejadian 48). Rasul Paulus dalam salah satu suratnya menyiratkan hierarki anggota tubuh ini. Juga baca Pengkhotbah 10:2, Mzm 16:8, Mat 25:33, 26:64 Mrk 14:62, Kis 7:55-56, 1Pet 3:22, dll.

12). Anak sulung; Dalam hierarki keluarga, posisi tertinggi diantara seluruh keturunan bapak/ibu ialah anak sulung. Ia selalu dikedepankan dalam memecahkan berbagai masalah, juga sebagai panutan bagi semua adik-adiknya. Jika ayah (sudah) meninggal, maka anak sulung yang sudah dewasa akan mengganti posisi sang ayah dalam hal tanggung jawab terhadap seluruh anggota keluarga seperti yang diungkapkan dalam umpasa: “Pitu batu martindi-tindi, alai sada do sitaon na dokdok”. Sitaon na dokdok itu adalah si anak sulung. Tanggung jawab itulah yang membuat dia besar, memberi karisma dan wibawa. Karisma dan wibawa, itulah profil yang melekat pada anak sulung. Deskripsi tentang anak sulung pada bangsa ini sama seperti yang ada pada suku Batak yang sekarang, sehingga the term of the firstborn (istilah anak sulung) banyak terdapat dalam kitab tersebut. (baca Kel 4:22, 34:20, 13:12 dan 15, Im 27:26, Bil 3:13, 8:17, Mzm 89:28, Yer 31:9, Hos 9:20, Rom 8:23, Luk 2:27, 11:16, 1Kor 15:20 dan 23, Kol 1:15 dan 18, Ibr 1:6, Yak 1:18, dll)

13). Gender; Hingga sekarang posisi perempuan dalam hubungan dengan pencatatan silsilah selamanya tidak disertakan karena perempuan dianggap milik orang lain, menjadi paniaran ni marga yang berbeda. Hal yang sama terjadi pada bangsa Israel kuno; bangsa ini tidak memasukkan anak perempuan dalam silsilah keluarga. Ada banyak silsilah dalam Alkitab, tetapi nama perempuan tidak terdapat didalamnya kecuali jika muncul sebagai yang sangat penting seperti Rut dan Maria (ibu Yesus). Kalaupun nama Dina disebut juga dalam Alkitab, itu bukan karena posisinya yang penting tetapi hanya sebagai pelengkap nama-nama keturunan Yakub yang kemudian menurunkan seluruh bangsa Israel. Dalam Tradisi Israel, anak perempuan tidak dihitung sebagai bangsa, tetapi hanya anak laki-laki saja.

14). Kemenyan BATAK TOBA; Ada cerita yang sangat dipercaya oleh orang majuz atau cendekiawan dari timur untuk bayi Yesus yang baru dilahirkan di Betlehem itu berasal dari Tanah Tapanuli. Persembahan itu berupa kemenyan, mendampingi dua persembahan lainnya, emas dan mur. Lewat cerita turun-temurun, masyarakat Tapanuli percaya kemenyan itu dibawa dari Pelabuhan Barus, yang dulu pernah menjadi pelabuhan besar, menuju Timur Tengah, hingga ke Betlehem. Cerita itu semakin bergulir mengingat sebagian besar penduduk Tapanuli beragama Kristen dan Katolik yang erat dengan cerita kelahiran Yesus Kristus.
Kebenarannya memang perlu diteliti, tetapi setidaknya dari cerita itu bisa terlihat bahwa sampai sekarang pun getah harum bernama kemenyan, yang dalam bahasa Batak disebut haminjon, itu begitu erat dengan kehidupan orang Tapanuli. Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumatera Utara yang juga mantan Bupati Tapanuli Utara RE Nainggolan menjelaskan, kemenyan pernah sangat menyejahterakan masyarakat Tapanuli. Dan, getah harum itu ikut pula membesarkan namanya. “Nenek saya pedagang kemenyan,” tuturnya. Ia tahu persis, pada tahun 1936 neneknya sudah mempunyai mobil untuk mengangkut kemenyan dari Tapanuli ke Pelabuhan Sibolga. Saat itu harga satu kilogram kemenyan sama dengan satu gram emas. Standar itu dipakai terus oleh petani dan pengepul di Tapanuli: Satu kilogram kemenyan sama dengan satu gram emas. Satu kilogram kemenyan juga setara satu kaleng (16kilogram) beras. Selain cerita tentang persembahan dari timur untuk Yesus itu, tak banyak orang tahu sejarah kemenyan di Tapanuli. Kebanyakan warga menyebutkannya sebagai tanaman ajaib yang sudah ada ratusan tahun dan menghidupi masyarakat Tapanuli.

15). Monoteisme Hamalimon– Parmalim– Ugamo Malim Hamalimon – Parmalim– Ugamo Malim; Agama Leluhur Bangso Batak Toba Parmalim, kaum minoritas yang tegar mempertahankan nilai leluhur batak. Kata Malim berasal dari bahasa Arab yang terdapat di kitab-kitab suci; yang berarti suci dan saleh dari asal kata Muallim.Dalam bahasa Arab Muallim merujuk kepada istilah orang suci yang menjadi pembimbing dan sokoguru. Parmalim diistilah Batak berkembang kedalam pengertian; orang-orang saleh berpakaian sorban putih. Parmalim merupakan agama monotheis asli Bangso Batak Toba. Parmalim sudah ada sejak 497 Masehi atau 1450 tahun Batak.
TUHAN menurut Hamalimon –Parmalim – Ugamo Malim Ugamo malim menyebut Tuhan adalah Mulajadi na Bolon (Awal Mula Yang Besar). Mula jadi na Bolon adalah Tuhan Yang Maha Esa yang tidak bermula dan tidak berujung. Bahwa Mulajadi na Bolon atau Tuhan itu wujud atau ada. Tetapi tidak dapat dilihat. Dia tidak bermula dan tidak mempunyai ujung. Dia adalah mutlak absolut, Maha Esa, Maha Kuasa, Maha Agung dan tidak dapat dibandingkan. Dia dekat dan jauh dari alam ciptaannya. Dia adalah kuasa yang menghukum dan kuasa mengampuni. Kuasa kasih dan kuasa murka. Demikianlah sifat-sifat Mulajadi Na Bolon, Tuhan yang satu bersadarkan Ugamo Malim. Dalam Injil Perjanjian Lama, menceritakan Raja Salomo dikenal dengan Nabi Sulaiman, memerintahkan rakyatnya melakukan perdagangan dan membeli rempah-rempah hingga ke Ophir. Ophir patut diduga adalah Barus di Tapanuli. Perkiraan itu punya jejak spiritual berbentuk kepercayaan monotheisme. Misalnya Ugamo Parmalim yang menjadi agama asli etnis Batak, meyakini Tuhan Yang Maha Esa dengan sebutan Ompu Mulajadi Na Bolon (Parmalim atau Ugamo Malim).
Selain itu, sekelompok penyebar ajaran Kristen Nestorian dari Persia yakni Iran, yang menjejakkan kakinya di Barus diperkirakan datang sekira tahun 600an Masehi dan mendirikan gereja pertama di Desa Pancuran, Barus. Tambahan: Dalam kitab umat Yahudi, Melakim (Raja-raja), fasal 9, diterangkan bahwa Nabi Sulaiman a.s. raja Israil menerima 420 talenta emas dari Hiram, raja Tirus yang menjadi bawahan beliau. Emas itu didapatkan dari negeri Ophir. Banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa negeri Ophir itu terletak di Sumatera! Perlu dicatat, kota Tirus merupakan pusat pemasaran barang-barang dari Timur Jauh. Ptolemaios pun menulis Geographike Hyphegesis berdasarkan informasi dari seorang pedagang Tirus yang bernama Marinus. Dan banyak petualang Eropa pada abad ke-15 dan ke-16 mencari emas ke Sumatera dengan anggapan bahwa di sanalah letak negeri Ophir-nya Nabi Sulaiman a.s. Secara “teologis” bisa dikatakan bahwa ugamo malim juga menganut paham monoteistik, kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa karena tujuan akhir semua doa mereka tetap diarahkan kepada debata Mulajadi Nabolon. Ini hal yang luar biasa uniknya. Tidak ada analisis yang dapat menerangkan itu jika tidak menghubungkannya dengan faham monoteisme Yudaisme bangsa Israel kuno yang terbawa melekat hingga sekarang, tidak lekang oleh kikisan kurun waktu ribuan tahun. Dalam melaksanakan ibadah, Parmalim melaksanakan upacara (ritual) Patik Ni Ugamo Malim untuk mengetahui kesalahan dan dosa, serta memohon ampun dari Tuhan Yang Maha Esa yang diikuti dengan bergiat melaksanakan kebaikan dan penghayatan semua aturan Ugamo Malim.
Sejak lahir hingga ajal tiba, seorang “Parmalim” wajib mengikuti 7 aturan Ugamo Malim dengan melakukan ritual (doa). Ke-7 aturan tersebut adalah :
- Martutuaek (kelahiran)
- Pasahat Tondi (kematian)
- Mararisantu (peribadatan setiap hari sabtu)
- Mardebata (peribadatan atas niat seseorang)
- Mangan Mapaet (peribadatan memohon penghapusan dosa)
- Sipaha Sade (peribadatan hari memperingati kelahiran Tuhan Simarimbulubosi)
- Sipaha Lima (peribadatan hari persembahan/kurban)
Selain ke-7 aturan wajib di atas, seorang “Parmalim” harus menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan seperti menghormati dan mencintai sesama manusia, menyantuni fakir miskin, tidak boleh berbohong, memfitnah, berzinah, mencuri, dan lain sebagainya. Diluar hal tersebut, seorang “Parmalim” juga diharamkan memakan daging babi, daging anjing dan binatang liar lainnya, serta darah. Manusia yang mematuhi dan mengikuti ajaran Tuhan dan melakukannya dalam kehidupannya, memiliki pengharapan kelak ia akan mendapat kehidupan roh suci nan kekal.
Secara implisit, inilah yang menjadi ajaran suci keyakinan Ugamo Malim atau lebih dikenal dengan Parmalim di Tanah Batak sejak turun temurun, seperti yang dikatakan Raja Marnakkok Naipospos selaku Ulu Punguan (pemimpin spiritual) Parmalim terbesar di Desa Hutatinggi Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir. Menurut beberapa pandangan ilmuwan sosial, sebenarnya Ugamo Malim layak menjadi sebuah agama resmi. Alasannya ialah dalam ajaran aliran ini juga terdapat nilai-nilai religius yang bertujuan menata pola kehidupan manusia menuju keharmonisan, baik sesama maupun kepada Pencipta. Dan secara ilmu sosial tujuan ini mengandung nilai luhur. Bahkan, ajaran Parmalim menuntut manusia agar hidup dalam kesucian,” jelasnya kemudian menerangkan secara detail asal-muasal kata
Parmalim yang berasal dari kata “malim”. Malim berarti suci dan hidup untuk mengayomi sesama dan meluhurkan Oppu Mulajadi Nabolon. “Maka, Parmalim dengan demikian merupakan orang-orang mengutamakan kesucian dalam hidupnya,” jelas Marnangkok,
Pemimpin Parmalim. Yang kami puja tak lain adalah Oppu Mula Jadi Na Bolon bukan”begu” (roh jahat),” katanya. “Dan inilah yang menjadi bias negatif dari masyarakat terhadap Parmalim” Marnangkok kemudian menjelaskan, Oppu Mula Jadi Nabolon dianggap sbg pencipta alam semesta yang tak berwujud, dan mengutus sewujud manusia sebagai perantaraannya (parhiteon), yakni Raja Sisingamangaraja yang juga dikenal dengan Raja Nasiak Bagi. Raja Nasiak Bagi merupakan julukan terhadap kesucian (hamalimon) serta jasa-jasanya yang hingga akhir hidupnya tetap setia mengayomi Bangsa Batak. Nasiak Bagi sendiri berarti ditakdirkan untuk hidup menderita. Ia bukan raja yang kaya raya tetapi hidup sama miskin seperti rakyatnya. Dengan demikian, Parmalim meyakini bahwa Raja Sisingamangaraja dan utusan-utusannya mampu mengantarkan mereka (Bangsa Batak) kepada debata. Ugamo Malim diyakini sebagian orang sudah ada sebelum ajaran Kristen dan Islam masuk ke daerah itu. Hidup dalam kepasrahan. Barangkali itu jugalah intisari dari pernyataan kata bijak Parmalim yang mengatakan: “Baen aha diakkui sude bangso on hita, ia anggo so diakkui Debata pangalahon ta.” (Tidakklah begitu berarti pengakuan semua bangsa terhadap kita, dibandingkan pengakuan Tuhan terhadap perilaku kita).
Catatan: Sisingamangaraja, adalah Singa yang merajai. Para Datu atau Tua-Tua Batak Toba, menjuluki Singa bagi Hukum dan Singa bagi para raja. Padahal Singa tidak ada di Tapanuli, yang ada hanyalah Harimau. Kalau dilihat dari makna simbolis Alkitab, hanya Suku Yehuda yang dijuluki Singa Yehudah. Seperti apa yang kemudian dijelaskan Marnangkok, ” Untuk apa pengakuan dari setiap bangsa jika Tuhan sendiri tidak mengakui perbuatan kita di dunia ini?” Nampaknya, perjuangan Ugamo Parmalim sudah berujung pada kepasrahan. Dalam kepasrahan ini tentu saja masih ada harapan. Tapi, harapan itu bukanlah berasal dari dunia, melainkan dari Oppu Mula Jadi Nabolon. Dalam harapan itu, ada pula ketaatan untuk selalu mempertahankan hidup suci. Selanjutnya ia mengucapkan kalimat dalam bahasa Batak, “Berilah kepada kami penghiburan yang menangis ini, bawalah kami dari kegelapan dunia ini dan berilah kejernihan dalam pikiran kami.” Mereka yakin debata hanya akan memberkati orang yang menangis. Nah, dalam kepasrahan yang berpengharapan inilah mereka hidup. Dalam keterasingan itu juga mereka menyerahkan hidupnya pada “kemaliman” (kesucian). “Parmalim adalah mereka yang menangis dan meratap,” katanya.
Dalam ritual Ugamo Parmalim sendiri, terdapat beberapa aturan dan larangan. Selain mengikuti 5 butir Patik ni Ugamo Malim (5 Titah Ugamo Malim), juga terdapat berbagai kewajiban lainnya seperti Marari Sabtu atau ibadah rutin yang diadakan setiap Sabtu. Dalam menjelang hari Sabtu, pengikut Parmalim dilarang bekerja atau melakukan kegiatan apapun. Atau melakukan ucapan syukur dilakukan umat Parmalim setiap hari Sabtu.
Marnakkok Naipospos, pemimpin Parmalim mengatakan: “Samisara itu hari ketujuh bagi orang Batak. Diidentikkan dengan hari Sabtu, supaya berlaku untuk selamanya.
Karena kalau kita bertahan pada kalender Batak, yang muda ini bisa bingung. Makanya kakek kita menentukan samisara ini hari Sabtu.” Kewajiban lain di antaranya adalah Martutu Aek, yakni pemandian bayi yang diadakan sebulan setelah kelahiran, Pasahat Tondi, yaitu ritual sebulan setelah kematian, Pardebataan, Mangan na Paet dan Pangkaroan Hatutubu ni Tuhan. Ada pun larangan yang hingga kini masih tetap dipertahankan di antaranya adalah larangan untuk memakan daging babi dan darah hewan seperti yang lazim bagi umat Kristen. Memakan daging babi atau darah dianggap tidak malim (suci) di hadapan Debata. Padahal dalam ajaran Parmalim sendiri dikatakan, jika ingin menghaturkan pujian kepada debata, manusia terlebih dahulu harus suci. Ketika menghaturkan pelean (persembahan) kesucian juga dituntut agar Debata dan manusia dapat bersatu. Selanjutnya, Raja Sisingamangaraja memiliki keturunan hingga 12 keturunan. Itu pun secara roh. Inilah yang kemudian menjadi acuan pada acara atau ritual-ritual besar Ugamo Parmalim yang diadakan rutin setiap Sabtu dan setiap tahunnya. Ritual-ritual besar Parmalim itu seperti Parningotan Hatutubu ni tuhan (Sipaha Sada) dan Pameleon Bolon (Sipaha Lima),yang diadakan pertama pada bulan Maret dan yang kedua bulan Juli.
Yang kedua diadakan secara besar-besaran pada acara ini para Parmalim menyembelih kurban kerbau atau lembu. “Ini merupakan tanda syukur kami kepada debata yang telah memberikan kehidupan,” kata Marnangkok.
Catatan: Dalam Kitab Paramalim, yakni Tumbang Holing, terdapat kisah manusia pertama, Adam dan Hawa termasuk taman eden dimana hawa digoda si ular. Hal itu dalam istilah bahasa Batak Toba. Parmalim itu bisa jadi merupakan ajaran usianya sudah ribuan tahun, jauh sebelum Islam dan Kristen masuk dan mempengaruhi keyakinan etnis Batak. Demikian pula dengan simbol dan pakaian kebesaran kerajaan Batak Toba dan Parmalim, agama leluhur Bangso Batak Toba, cenderung mendekati simbol-simbol agama Samawi, misalnya, tongkat, pedang, sorban berwarna putih serta stempel kerajaan. Jika dihubungkan cerita tentang penemuan mummy Mesir yang dibalsem dengan rempah-rempah pengawet di antaranya kanfer (kapur barus) serta kisah tentang Raja (Nabi) Sulaiman/ Salomo membutuhkan rempah-rempah dari Ophir (Barus) di Tapanuli, diperkirakan jejak agama monotheisme Israel terserap dan kemudian mengakar dalam keyakinan Parmalim – Hamlimon – Ugamo Malim, agama Bangso Batak Toba.

 

Cukup saja dulu hingga disitu, terlalu letih untuk membeberkan semua, termasuk indikasi-indikasi lemah yang banyak jumlahnya. Jika data yang diatas itu saja dibawa kepada ahli statistik, yang tentu akan mempertimbangkan semua aspek-aspek lain yang terkait kedalamnya, simililaritasnya dengan tradisi bangsa Israel kuno dengan bukti autentik tertulis dalam Alkitab, informasi sejarah sekuler, tradisi Semitik yang ada hingga sekarang, serta kesamaan tradisi itu pada suku Batak setelah kurun waktu kurang lebih 3000 tahun, angka perbandingan untuk mengatakan bahwa suku Batak Toba bukan keturunan Israel mungkin 1 : 1,000,000 bahkan bisa jadi lebih.
Tulisan ini tidak bermaksud menampilkan superioritas ras, suku atau bangsa atau budaya tertentu. Jika tulisan ini menimbulkan kesan seolah-olah menonjolkan superioritas suatu budaya tertentu, hal itu semata-mata terjadi karena topik yang berfokus pada peran suatu etnis atau Bangso Batak Toba. Keberadaan unsur asing dalam kebudayaan suatu bangsa adalah sebuah kewajaran. Penyerapan unsur asing ke dalam suatu budaya lokal tidak berarti menunjukkan inferioritas kebudayaan yang menyerapnya. Sejarah justru mencatat, kebesaran suatu kebudayaan berkorelasi positif dengan banyaknya unsur asing yang diserap dan dikembangkan oleh komunitas budaya bersangkutan. Sejarah juga mencatat interaksi suatu komunitas budaya dengan komunitas budaya lain, berjalan timbal balik, tidak pernah searah saja. Tulisan ini mestilah dipahami sebagai upaya menampilkan kemungkinan terjadinya pertukaran nilai budaya dalam rentang waktu beberapa abad antara Timur dengan Barat. Pada jaman Raja-raja Israel dan Yehudah, telah dilakukan kontak dengan Barus, Tapanuli dengan Israel, Mesir, Persia, Cina, India, Arab, Yunani dan Pakistan yang terjadi satu milenium sebelumnya, hubungan dagang tersebut sudah berlangsung beberapa abad sebelum
masehi).

 

Dari berbagai sumber.

Thanks to : Secret Lover tHe siDeBoNe

31 Komentar leave one →
  1. Desember 7, 2008 18:31

    Analisis yang luar biasa! Bicara tentang Israel selalu menarik perhatian karena darisanalah nenek moyang kita berasal. Saya setuju dengan analisis-nalisis tersebut diatas. Kita ketahui, bangsa Israel adalah BANGSA YANG BESAR, BANGSA YANG DIBERKATI. Bangsa Batak dimanapun dibelahan Bumi ini pasti bisa ditemukan, betapa tidak, inilah salah satu suku bangsa terbesar di Indonesia, pengembara, tangguh, adaptif, cerdas diantara kaumnya dan mempertahankan adat istiadat/budayanya (selalu mempertahankan lingkungan ekslusif-”halak hita”). Kita juga mengetahui, dimanapun Suku Bangsa dapat menjadi pemimpin yang masysur tetapi selalu dihambat oleh saudara-saudaranya yang lain. Mungkin mereka mengetahui, Israel ada di dalam tubuh dan Jiwa Bangsa Batak. :D

    Hehehe…

  2. Leonard permalink
    Desember 14, 2008 15:39

    Gak usah lu ngaku-ngaku suku israel yang hilang,sudah menjadi fakta bahwa pribumi indonesia berabad-abad yang lalu animisme dan dinamisme, bangso batak itu palbegu. Kalau benar salah satu suku israel pasti sudah berabad-abad yang lalu mengenal Taurat sejak jaman Musa dan memelihara aksara dan bahasa Ibrani dengan ketat meskipun dapat berbicara dalam bahasa lokal setempat. Kekristenan masuk Sumatera Utara tahun 1800an sejak Nomensen memberitakan injil. Sudahlah tidak usah bangga jadi warga kelas dua Israel kalaupun itu bisa dibuktikan, banggalah menjadi Kristen yang taat pada Yesus Kristus.

    Hihi..makasih banget atas komennya..
    ada 3 hal yg ingin saya sampaikan

    1. Ini kutipan dr isi blog diatas, “Tulisan ini tidak bermaksud menampilkan superioritas ras, suku atau bangsa atau budaya tertentu. Jika tulisan ini menimbulkan kesan seolah-olah menonjolkan superioritas suatu budaya tertentu, hal itu semata-mata terjadi karena topik yang berfokus pada peran suatu etnis atau Bangso Batak Toba”
    Hihi, dan saya keturunan suku batak simalungun kok, ga ada campuran batak tobanya sama sekali.

    2. “Kalau benar salah satu suku israel pasti sudah berabad-abad yang lalu mengenal Taurat sejak jaman Musa dan memelihara aksara dan bahasa Ibrani dengan ketat meskipun dapat berbicara dalam bahasa lokal setempat“. Tidak semua hal seideal teoritisnya. Manusia itu dinamis. Bagaimana dengan fakta bahwa banyak anak2 muda batak (tapi yg tinggalnya udah ga di daerah asli batak ya) sudah tidak mengerti bahasa dan budaya batak? Saya pikir ini analogi yg sama dengan analisis yang bapak kemukakan. Memelihara aksara ibrani? yg saya tahu, beberapa aksara batak itu mirip dengan aksara ibrani.

    3. Saya sedikit setuju dengan statement ini “Sudahlah tidak usah bangga jadi warga kelas dua Israel kalaupun itu bisa dibuktikan, banggalah menjadi Kristen yang taat pada Yesus Kristus”

  3. Desember 30, 2008 6:12

    oGE1nP Thanks for good post

  4. Januari 15, 2009 11:34

    Hehehe…jadi saya Israel toh…saya suka IQ-nya.

    harikuhariini: Ups… udah cuman itu aja yg ingin kuungkapkan. hihi

  5. tanobatak permalink
    Januari 15, 2009 12:40

    “Dalam Kitab Paramalim, yakni Tumbang Holing, terdapat kisah manusia pertama, Adam dan Hawa termasuk taman eden dimana hawa digoda si ular. Hal itu dalam istilah bahasa Batak Toba….”

    Keterangan ini sangat jauh dari yang sebenarnya. Menurut legenda Batak bahwa manusia pertaman adalah Si boru Deak Parujar yang turun langsung seteleh planet bumi ditempa. Jadi tidak ada kamus dalam budaya batak menjebutkan bahwa adam dan hawa yang terbuat dari tanah adalah asal usul manusia….
    Parmalim adalah sebutan setelah kurun waktu tahun 1910 setelah Sisingamangaraja 12 wafat. Yang ada di batak sebelumnya adalah sebuah ajaran tentang Hamalimon. Sebutan Parmalim mengkristal bagi mereka yang menolak ajaran kristen. Kitab Tumbaga Holing adalah legenda dan sampai saat ini belum ada yang melihat bentuknya dan aksaranya. Kalau ada saat ini menyebut sebuah kitab Tumbaga Holing, bukan yang sebenarnya. Raja Patik Tampubolon pernah menerbitkan buku berjudul Pustaha Tumbaga Holing dan murni karya tulisnya.

    “Parmalim itu bisa jadi merupakan ajaran usianya sudah ribuan tahun, jauh sebelum Islam dan Kristen masuk dan mempengaruhi keyakinan etnis Batak….”

    Ajaran keagamaan/keyakinan ini mungkin sudah ribuan tahun, tidak ada yang menjelaskan dengan tepat bila selalu mengatakan ajaran itu dengan sebutan “Parmalim”. Sekali lagi bahwa parmalim itu adalah sebutan bagi orang2 yang menganut keyakinan batak dalam aliran “hamalimon”. Banyak aliran keyakinan batak terhadap Mulajadi Nabolon tidak menyebut dirinya “Parmalim” seperti Golngan Siraja Batak, Parsitengka, Parhudamdam dll. namun setelah adanya izin dari pemerintah belanda kepada Parmalim yang mengkristal sejak tahun 1910 itu, maka kelompok lainnya serta merta menyebut diri juga Parmalim agar tidak dianggap kelompok perlawanan kepada Belanda.

    Komentar Leonard “animisme dan dinamisme, bangso batak itu palbegu….”
    …. Anggapan yang seperti ini masih tetap menghujam kepada leluhur batak dan tidak mengakui mereka sudah memiliki peradaban… selalu menistakan… Kearifan manusia moderen tidak dapat dibandingkan dengan para leluhur batak yang mampu membuat aksara, bahasa, tata kekerebatan, adar istiadat hingga ke tata prajaan tanpa ada polisi dan militer. manusia sekarang taan dan takut kepada polisi dan penjara, bukan karena kearifannya. kalau duli batak ada konflik, lebih membanggakan dengan pola peradilan tradisional mereka. Kolonial dan mission selalu menampilkan sisi buruknya dan tidak jujur menunjukkan sisi baiknya.

    Saya sudah lama membaca postingan seperti ini dan tidak tertarik. Memicarakan kedekatan Israel dengan Batak Toba tapi yang diulas adalah Parmalim yang terbentuk tahun 1910 mana ada relevansinya.
    Bila ingin lebih banyak tau tentang Parmalim dapat dilihat di http://www.parmalim.com

    harikuhariini says:
    Hahahaee…mamayo….

  6. cornel H permalink
    Januari 15, 2009 13:56

    Analisa yang penting dianalisa.

    Harikuhariini says:
    Analisa. Kayak nama koran di sumut. hihi

  7. Februari 9, 2009 4:10

    Boleh-boleh aja sih mencari asal-usul sejarah Batak.
    Kalo memang benar terbukti kalo Bangsa Batak (khususnyaBatak Toba) itu keturunan Israel ya Puji Tuhan berarti asal-usul kita sebagai orang Batak telah dipecahkan.
    Tapi saya setuju dengan Leonard bahwa yang terpenting adalah kita harus taatlah dalam mengikut Kristus. Setia mengikuti panggilannya dan banggalah sebagai seorang pengikut Kristus yang setia.
    God bless you all
    Harikuhariini: Sip! Mantap! pake telor… lakukan segera boiii

  8. Maret 24, 2009 10:18

    itu benar bahwa batak toba memang benar keturunan israel buktinya sudah jelas jadi kami tidak mempersuperioritaskan diri kami cuma mengangkat fakta.

    Harikuhariini: analisis yang penting dianalisis.

  9. rai permalink
    Maret 27, 2009 14:45

    sori om ancoll.
    kristen masuk batak untuk memecah persatuan bangsa batak pada waktu itu.
    tujuan utamanya bukan untuk mengajak masyarakat batak masuk surga, tetapi lebih kepada kepentingan kolonial untuk menguasai seluruh andalas.
    masih banggakah anda?
    silakan baca sejarah misi gereja belanda dan jerman.

    ancoll // Februari 9, 2009 pada 4:10

    Boleh-boleh aja sih mencari asal-usul sejarah Batak.
    Kalo memang benar terbukti kalo Bangsa Batak (khususnyaBatak Toba) itu keturunan Israel ya Puji Tuhan berarti asal-usul kita sebagai orang Batak telah dipecahkan.
    Tapi saya setuju dengan Leonard bahwa yang terpenting adalah kita harus taatlah dalam mengikut Kristus. Setia mengikuti panggilannya dan banggalah sebagai seorang pengikut Kristus yang setia.
    God bless you all
    Harikuhariini: Sip! Mantap! pake telor… lakukan segera boiii

    Harikuhariini: saya semakin bangga, teramat bangga, karena saya punya Allah yg luar biasa. pernyataan pak Rai menyadarkan saya bahwa “everything is in God control”. Allah memakai semua cara untuk menyatakan kasihNya pada bangsa batak. What a wonderful God!!

  10. rai permalink
    Maret 27, 2009 14:54

    ini link untuk sekedar merangsang pikiran kita…
    http://marbun.blogspot.com/2006/03/angka-tahun-sejarah-batak.html

  11. Shalomo Ben Dawidh permalink
    Mei 3, 2009 2:20

    @ lEONARD,

    Ada dua gelombang kedatangan suku Israel yang hilang ke Barus, Tapanuli:

    Pertama, pada utusan Raja Salomo, saat mencari Ophir. Saya sendiri masih belum tahu apa itu Ophir, apakah sejenis batu permata, rempah-rempah atau lainnya. Lalu Kemenyan Batak Toba yang terkenal, konon dulu untuk kaum kohen (Imam) di Bait Suci, kemudian Kamfer (Kapur Barus yang juga dipakai untuk pemakaman raja-raja mesir (Firaun). Dan mungkin lainnya, motivasi kedatangan mereka.

    Kedua, kedatangan para pedagang timur tengah ke Barus, karena Barus juga terkenal sebagai pelabuhan ke seluruh dunia, berbeda dengan di tempat-tempat sumatera lainnya, dan juga berbeda dengan di jawa dan ditempat/wilayah indonesia lainnya.

    Kedatangan kedua ini, selain berdagang, juga kelompok Kristen Nestorian yang merupakan keturunan Yahudi langsung dari Yudea, kemudian mereka banyak yang berkomunitas di Irak. sehingga Nestorian itu terkenal dari Irak-Iran hingga penyebarannya ke seluruh asia termasuk Barus, Tapanuli. Kristen Nestorian merupakn kekristenan yang asli dari para rasul hingga kini, bahkan terkenal dengan semangat penginjilannya. Tetapi sekarang jumlahnya hanya sedikit sekali karena banyak faktor, diantaranya penyerangan dan aniaya. Sekarang mereka ada di Irak, Iran, India dan sudah menyebar ke Eropa, AS dan lain sebagainya, untuk menghindari pembunuhan massal hingga kini. Mereka ini sangat dibenci oleh musuh-musuhnya.

    selain itu, Kristen Nestorian juga yang merupakan keturunan Yahudi (dari suku Yehuda) termasuk dengan suku Benyamin yang disebut Yahudi, karena Yehuda, adalah abangnya Benyamin, maka untuk menghormatinya, dipakailah nama abangnya YEHUDA (yang akhirnya disebut YAHUDI). Mereka ini juga yang menginjili ke suku – suku Israel yang hilang sehingga banyak suku – suku Israel yang hilang bertobat. Maka tak heran kalau, Kristen Nestorian itu adalah berasal dari Bangsa Yahudi dan Suku-suku Israel.

    Untuk mengetahui apakah Krsiten Nestorian ada hubungannya dengan Yahudi dan Suku – suku Israel yang hilang, coba klik atau buka website dibawah potongan resume buku ini dengan COPY dan PASTE:

    The Nestorians or The Lost Tribe, Containing Evidence of Their Identity, An Account of Their Manners, Customs, and Ceremonies, together with sketches of travel in ancient Assyria, Armenia, Media, and Mesopotamia, illustrations of Scripture prophecy, and appendices.

    Grant gives an account of his encounters with the “Nestorians”, arguing that they “are indeed the representatives and lineal descendants of the Ten Tribes.” Despite this unlikely theory, his vivid description of their life and traditions provide a valuable resource on the ‘Nestorian” Christians in the early 1800s.

    Note: Chapters have no headings, but many subheadings. The first subheading is given here.

    http://www.gorgiaspress.com/bookshop/pc-269-57-grant-asahel-the-nestorians-or-the-lost-tribe.aspx

    Shalom

  12. Shalomo Ben Dawidh permalink
    Mei 3, 2009 2:27

    @LEONARD; Kekristenan masuk Sumatera Utara tahun 1800an sejak Nomensen memberitakan injil. Sudahlah tidak usah bangga jadi warga kelas dua Israel kalaupun itu bisa dibuktikan, banggalah menjadi Kristen yang taat pada Yesus Kristus.
    ”””””””””””””””

    Saya mau jelaskan, kalau kekristena masuk di Tapanuli, yakni di barus. bukan sumatera utara. ssat itu, tidak dikenal namanya sumatera utara, yang ada barus, dimana disenut sebagai Ofir atau negeri emas, gitu bos leo…

    Jauh sebelum agama Islam masuk ke nusantara dan kemudian menjadi agama yang paling banyak dipeluk oleh rakyat Indonesia, sesungguhnya Kekristenan Nestorian sudah terlebih dahulu hadir di Indonesia.

    Adalah kecamatan terpencil di Sumatra Utara yang bernama Barus menjadi saksi masuknya Kristen Nestorian pada tahun 645 M. Pernyataan ini dibuktikan dalam tulisan buku kuno yang ditulis oleh Shaikh Abu Salih Al-Armini juga penjelajah Armenia bernama Mabousahi. Sedangkan agama Islam sendiri baru masuk di Indonesia melalui Barus tahun 672 M berdasarkan catatan Nuchbatuddar tulisan Addimasqi. Bahkan ada perkiraan yang walaupun masih belum bisa dipastikan karena masih diteliti yaitu Parmalim (agama asli suku Batak) adalah pewaris/penurun dari Kristen Nestorian yang telah bercampur dengan budaya asli Batak.

    Masuknya Kristen Nestorian di Indonesia tidak lepas dari semangat penginjilan kuno yang dilakukan oleh para penginjil/rahib Nestorian dalam menyebarkan injil mereka di India, China, Indonesia dan beberapa wilayah Asia Timur.

    Karena putusnya hubungan dengan asalnya ditimur atau invasi islam, maka mereka tidak lagi kontak. Setelah itu, beberapa abad, datanglah Nommensen untuk, kalau bisa dibilang ‘TUHAN’ utus lagi, ke tanah Batak, gitu bos leo….

  13. Shalomo Ben Dawidh permalink
    Mei 3, 2009 2:35

    @ TanoBatak,

    Sampai sekarang belum dapat dipastikan kapan mulai orang Batak Toba pertama bermukim di daerah Toba disuatu tempat yang disebut Sianjur mula-mula. Diduga orang Batak adalah termasuk ras Melayu tua yang berasal dari Hindia Belakang (didaerah Vietnam, Myanmar, Burma, Laos sekarang.). Dimana persisnya di Hindia Belakang masih teka teki. Ada usaha menelusuri asalnya ke suku Karen di Myanmar, tetapi belum mencapai hasil memuaskan karena ternyata terlalu banyak ditemukan perbedaan budayanya. Suku Karen lebih banyak kesamaan dengan suku Dayak di Kalimantan. Juga upaya menghubungkannya dengan suku Batak Palawan di Filipina akan menemukan kejanggalan. Batak Palawan adalah ras negrito yang berambut keriting dan nomadik (suka berpindah-pindah) sedang orang Toba berambut lurus dan tidak suka berpindah karena hidup dari pertanian.

    Catatan dari dinasti Ming kira-kira tahun 1400 menyebut kota di pantai barat Sumatera ‘Pan shu rh’ dimaksud Pansur alias Barus . Dikatakan Barus sudah dikunjungi banyak pedagang Cina, Arab dan India sejak abad 10. Beberapa penulis mencoba menyingkap dengan menelusuri melalui silsilah marga yang dipelihara oleh orang Toba. Dihitung kurang lebih orang Batak Toba sudah mencapai 20 generasi (sundut) dan setiap generasi rata-rata berusia 25 tahun maka 20 dikalikan 25 tahun adalah 500 tahun. Jadi orang-orang Batak pertama hidup pertama kira-kira 500 tahun dari sekarang yaitu sekitar abad 16 atau taruhlah abad 15. Kalau demikian halnya bagaimana menjelaskan para pedagang India, Cina, Arab pada abad sebelumnya sudah mencari kemenyan dan kamper (kapur barus) yang berasal dari pedalaman, dikumpulkan orang-orang Batak? Ini menjadi misteri yang harus dipecahkan oleh para ahli.”

    Nah, kalau soal Batak Toba suka makan sangsang, itu karena sudah putus dengan pusatnya di yerusalem. anda tahu, kalau bangsa israel itu, juga jatuh dalam paganisme – agama kafir, dimana mereka sendiri mengorbankan anaknya sendiri untuk dibakar. bahkan pada zaman Josephus flavius dikatakan ketika israel dijajah Roma dimana hidup sangat parah dimana kelaparan melanda palestina saat itu, banyak orang yahudi memakan anaknya sendiri karena tidak ada makanan.

    selain itu juga karena, sesudah masuknya kekristenan (Masa Nommensen) di Tapanuli, semua binatang jadi dilegal atau disahkan untuk dimakan, padahal keyakinan agama Batak Parmalim diharamkan dan tidak malim (suci).

    soal tes dna, asal tahu saja. dna itu tidak selalu membuktikan keturunan israel, makanya ketika zaman nabi ezra, semua orang yahudi yang pulang ke palestina harus menunjukkan silsilahnya, tanpa silsilah maka orang itu belum dianggap keturunan israel, coba anda baca di kitab ezra di perjanjian lama.

    menurut para ahli, dna itu hanya ada di keturunan harun atau disebut KOHEN (artinya IMAM), jadi kohen itu keturunan Imam yakni keturunan Harun dari suku lewi, selain itu juga keturunan lewi (ini versi yang lain, tetapi satu keturunan yakni lewi). kenapa KOhen dan lewi saja yang memiliki dna sedangkan yang lain tidak, karena kaum harun/kohen – lewi, khususnya kohen yang melayani ruang maha kudus dan memakan makanan persembahan berupa kurban binatang, jadi sekarang ini, kalau ditanya soal dna itu, apakah suatu suku itu keturunan israel yang hilang tidak bisa dibuktikan melalui dna, kecuali kalau ada penemuan baru, padahal sekarang ini hanya kaum kohen saja yang bisa dicek dnanya. suku ruben, yehuda, benyamin dan lain-lain belum tentu atau belum ada dipastikan dnanya, oleh karena itu melalui budaya dan agama suku, kebiasaan yang melekat pada bangsa itu sendiri, meskipun sudah kawin campur.

    Shalom

  14. Shalomo Ben Dawidh permalink
    Mei 3, 2009 2:38

    @Rai,

    Soal fisik, keturunan Suku Israel yang hilang itu sudah banyak yang kawin campur, kalau anda sudah pernah baca, sebagian orang jepang, itu keturunan israel, suku manaseh di india, namun berfisik mongolia juga keturunan israel, suku igbo, suku lemba diafrika yang jauh dari ethiophia juga keturunan israel, bahkan sebagian orang – orang suku eropa juga mempunyai tradisi yang mirip denga israel, apalagi dengan kebiasaan bangso batak.

    Saya kira you, Rai sudah pernah baca, nyatanya juga gak tahu apa – apa tentang suku-suku israel.

    Bangso Batak, dalam keyakinan Parmalim menganut Monotheisme, namun mempercayai banyak perantaraan. Tetapi tetap menganut kepada satu Tuhan. Anda tahu, kalau kekristenan yang pertama kali masuk ke indonesia ada dimana?

    kalau tidak tahu, saya kasih tahu, pertama kali kekristenan masuk ke tanah batak, tapanuli di barus, suatu pelabuhan terbesar hingga ke timur tengah dan eropa.

    Yesus sendiri, pernah berkata di injil untuk mencari domba – domba israel yang terhilang, sehingga penginjilan dimulai dari yerusalem hingga ke seluruh dunia, namun semua para rasul yang yahudi itu menyebar ke seluruh daerah, bahkan ke india. salah satu gereja nestorian di barus itu adalah gereja dari timur tengah. sejarah gereja nestorian itu dekat dengan yudaism israel dan banyak dari mereka keturunan yahudi dan sepuluh suku israel yang hilang bergabung dan mencar untuk menyebarkan injil keselurh dunia, dengan menyebarkan injil kepada keturunan yahudi dan israel.

    buktinya, Parmalim, diperkirakan hasil penginjilan kristen nestorian yang belum tuntas akibat invasi islam di timur tengah sehingga putus hubungannya.

    akhirnya Tuhan kirim lagi misionaris Jerman, Nomensen untuk menyebarkan injil ke Tapanuli, memang kekristena itu sudah muncul di tapanuli apada abad ke 6, tapi putus namun disambunglagi, gitu broer….

    Shalom

  15. Shalomo Ben Dawidh permalink
    Mei 3, 2009 2:41

    Ini ada artikel soal orang Yahudi yang bukan keturunan asli dari bangsa Israel. Artikel ini menarik, kalau anda sendiri baca. Asal anda tahu, bahwa di Israel Modern sendiri atau di kalangan Yahudi sendiri banyak yang bukan keturunan asli, karena kebanyakan nenek moyangnya CONVERT ke JUDASIM…

    The Jews Who Are Not The Ancient Israelites

    April 24, 2008 in History, Jewish Supremacy, Religion | Tags: Jewish Supremacy, Religion, Khazar Jews, Chazars, Edom, Esau, Talmudism, Jacob, Ashkhenazim, Pharisees, Ashkenazim, Torah, Sephardic

    In this Medieval painting, Jesus is handed over to the Romans by the Sanhedrin or the Pharisees. Talmudism is a quasi-reincarnation of these Pharisee’s beliefs and is followed by a racial group NOT descended from these people.

    Judaism is Pharisaism, which Christ preached against. A modern Orthodox Jew’s theology is the same as a Pharisee of Christ’s day. The Ancient Israelites (who were not Jews, nor were they their ancestors) practiced Mosaism, the religion of Moses.

    Jesus was a Hebrew (that is, a descendant of Eber), an Israelite (a descendant of Jacob), and a Judahite (a descendant of Judah) but not a Jew!

    Modern Jews are not even Israelites; they have no relation to Jesus at all. Modern Ashkenazi (or Yiddish) Jews are, in fact, primarily descended from a Turkic people, known as the Khazars, who converted to Judaism in the late 9th Century AD and the Jewish Edomites who converted to, or rather created, Judaism hundreds of years before. According to some genetic tests, 60% of Jewish DNA is Central Asian Turkic. The remaining 40% is of Semitic, specifically Edomite, origin.

    The Edomites were a mixed people, descended from Esau (the son of Isaac, and brother of Jacob). Esau had married several women of different ethnicity’s that existed in the land of Canaan at that time, including Hittites, Hivites, Horites, Canaanites, and Ishmaelites (Arabs).

    A bitter rivalry between the descendants of Esau and Jacob continued throughout history, and as they lived in close proximity for hundreds of years, their hatred worsened. The Romans referred to the Edomites as Idumeans, separate from Israelites, when they lived in the region of Palestine together. The Romans later divided Palestine into districts, with Idumea (land of Edomites) being one of the districts. Some Edomites converted to the religion of the Israelites although in doing so, they bastardized it, creating the books known as the Babylonian Talmud.

    At the fall of the Roman Empire, the Edomite Jews became scattered over all of Europe, with the majority settling down in the Turco-Mongolian (Khazaric) area of Russia, where they intermarried with the heathen Khazars who had converted en masse to Judaism. They are called Ashkenazi, and make up at least 90% of modern Jewry. Every Israeli Prime Minister has come from this heathen background. Which means their ancestors never walked the hills of Palestine. The only Jews with Abrahamic blood flowing in their veins come from the Sephardic Jews, whose lineage can be traced back to Esau/Edom.

    Here are some quotes that show this:

    “Hasdai ibn Shaprut, who was foreign minister to Abd-al-Rahman, Sultan of Cordova, in his letter to King Joseph of the Chazars (about 960 AD) … speaks of the tradition according to which the Chazars once dwelt near the Seir Mountains [The 'Seir Mountains' are none other than the original land of Esau-Edom - 'Thus dwelt Esau in Mount Seir: Esau is Edom' (Genesis 36:8). Seir was a mountain range sought of the Dead Sea and was also known as the 'land of Edom' (Genesis 36:21). The Seir mountains were the home of the Edomites for nearly a millennium (The Edomites arrived in Edom or Seir at the end of the 14th and beginning of the 13th century B.C. Encyclopedia Judaica, Vol. 6, p. 372) Thus we have it from Jewish sources that the Khazars originally 'dwell near the Seir Mountains' so are racially of Edomite stock. But how and when did Edomites get to Khazaria? There is evidence that in the 6th century BC, some of the Edomites fled their homeland of Seir and migrated north, 'After the fall of Jerusalem, in 586 BC, the Edomites began to press northward (Ezekiel 36:5)."

    (The New Westminster Dictionary of the Bible, ed. by Henry S. Gehman, The Westminster Press, Philadelphia, 1970, p. 418}].” (The Jewish Encyclopedia, Vol. IV, (1905), p. 3).

    “… the Idumeans (Edomites) were…made Jews…and a Turkish people (Khazars) were mainly Jews in South Russia…The main part of Jewry never was in Judea and had never come out of Judea.”

    (H.G. Wells, The Outline of History, 3rd ed., MacMillian, 1921, p. 494).

    “Edom is in Modern Jewry.”

    (The Jewish Encyclopedia,1925 edition, vol. 5, p. 41)

    “… the large majority of surviving Jews in the world of Eastern European, and thus perhaps mainly of Khazar origin. If so, this would mean that their ancestors came not from the Jordan but from the Volga, not from Canaan, but from the Caucasus…and that genetically they are more closely related to the Hun, Uigur and Magyar tribes than to the seed of Abraham, Isaac and Jacob.”

    (Arthur Koestler, The Thirteenth Tribe, Random House, 1967, p. 17).

    Strictly speaking, it is incorrect to call an ancient Israelite a ‘Jew’ or to call a contemporary Jew an ‘Israelite’ or a ‘Hebrew.’”

    (The Jewish Almanac, Compiled and Edited by Richard Siegel and Carl Rheins (New York: Bantam Books, 1980) p. 3.)

    Those who interchange the words “Jew” and Israelite, call Abraham a Jew, though Abraham was not an Israelite or a Jew. The word “Jew” is not used in the Bible until nearly 1,000 years after Abraham. Abraham was a Shemite (that is a descendant of Shem), and he was also a Hebrew (a descendant of Eber or Heber). But to say that he was a Judahite is to say that he descended from his own great-grandson, which is impossible!

    One of Jacob’s (Israel’s) children was Judah (Hebrew “Yehudah”). His descendants were called Yehudim (”Judahites”). In Greek the name is Ioudaioi (”Judeans”). Most all Bible translations use the word “Jew,” which is a modern, shortened form of the word “Judahite.” A “Jew” in the Old Testament would be a “Judahite;” and a “Jew” in the New Testament would be a “Judean.”

    The Bible uses the term “Jew” or Judahite in three distinct ways:

    1) One who is of the tribe of Judah in a racial sense (as Jesus was);

    2) One who is a citizen of the southern nation of Judah, including the Tribes of Benjamin and most of the Tribe of Levi; it will even include Canaanites and Edomites who were citizens of Judah (these are from whom modern Jews descend); and,

    3) One who is a follower of the religion of Judaism, or as it was more anciently known as Pharisaism (After the Pharisees).

    – CelticSicilian

    Thank you, CelticSicilian.

    As we can see here, whenever I say “Jews” on my blog, I really mean “Khazars” or “Chazars.” Most everyone uses the term “Jew” as a short-hand so the readers can understand of whom they speak. But they’re really not Jews of the Bible or the Old Testament (the Torah) as advertised by them. They have resurrected Pharisaism (which Jesus preached against) in the teachings of the Talmud and only by this can they be called “Judaic.”

    Polish “Jews” studying the Talmud. These are the Ashkenazim, racially the Khazars, who come mostly from Germany, Poland and Southern Russia. The richer German Ashkenazim have been in the US the longest, with many of the poorer ones being allowed to immigrate in the 1880’s as white Europeans. Little did we know just what we were doing.

    These Khazars are from Eastern Europe, mostly Poland and Southern Russia, some of whom migrated into Germany and other European nations. They’ve considered themselves “Jewish” from the Holy Land, for centuries now (the first few generations is all it would take) and their main religious book is the Talmud, some of it written in Babylon and then added to by themselves in Europe during the middle ages. And some was written by Sephardic Jews, in exile in Egypt and elsewhere, passed onto Jewish communities in Spain, then on-towards the European Khazars north and eastward.

    All of this is very complex and confusing for most Americans, hence people just call them “Jews.” And they want you to think of them as Israelites, instead of anything else, so as to take full advantage of the biblical status, victimhood and economic clout, but mostly for the cohesiveness of their racial stock. As such, this is the most racist group in the world, once you see their actions in toto.

    The Khazar racial group, who are the main promoters of Zionism and Jewish supremacism, may well have less “Holy Land” DNA than even the Palestinians that they have been trying to clear from the region for decades. This is one of the biggest lies of all history and, unbelievably, is still being promoted to this day. Often, when the Jew is not on the radar, he freely discusses this very fact among themselves, but the moment any Gentile brings it up, he is called a “anti-Semite.” Curious, huh?

    This is done mostly to befuddle the surrounding Christians and has worked marvelously for them. Witness the rise of “Dispensationalists” who believe that we need to support these people and the State of Israel for the sake of Christianity — even when these very same people believe in a Talmud that says Christ was nothing but a Egyptian magician and is now being boiled for eternity in a vat of excrement or semen in the bowels of hell!

    “The modern Jew is the product of the Talmud.” -– Michael Rodkinson, in preface of Babylonian Talmud, page XI.

    “The Talmud is to this day the circulating heart’s blood of the Jewish religion. Whatever laws, customs, or ceremonies we observe-whether we are Orthodox, Conservative, Reform, or merely spasmodic sentimentalists-we follow the Talmud. It is our common law.” -– Herman Wouk, “This is My God.”

    They’ve also worked tirelessly to elimanate any signs of Christianity from public property in the US. No longer can even the Manger scene be set-up in the town square for Christmas. Yet the menorah is perfectly legal. Any sign of Jesus supposedly serves as a reminder of that day in Jerusalum, 2,000 years ago and they say they don’t want to be called “Christ-killers” over it. In reality, the Talmud states that it was them, the Pharisees who killed Jesus (Baleem) with their own hands and not the Romans. According to them, he was stoned, strangled and decapitated at least four times (a bit of over-kill) in a trash dump.

    As an “Egyptian magician,” Jesus is considered a “false-prophet” by their Orthodoxy, so they are really out to stop you from worshipping Him in any way. And even Jewish political and social engineers, like the Jewish Anti-Defamation League (ADL) and even your very own government (can you believe that?), are now attacking the New Testament’s writings,* while totally ignoring anything about this Talmud.

    Some evangelical “ministers,” like the Bishop John Hagee, insist on deceiving their flocks about all of this, never telling you a thing about the real-life “hate” speech about Christians contained in the Talmud, nor that they call us ”Goyim,” or cattle. They also have other secret code names for the non-Jew, like “Cuthanite” or “Heathen.” These special names would eventually get out and the Talmudic Jews would then change them, sometimes even giving out secret code books to their Yeshiva students so they could correlate the names with what they study in the Talmud.

    Bishop Hagee says we have to support the State of Israel no matter what (basing it on the Old Testament or Torah) and conveniently ignoring all the evils that this country (based on the Talmud) does to the world, including to the USA. He believes that with the restoration of ancient Israel and the Temple Mount, we’ll see Jesus Christ descend from the heavens to take his place in the new Third Temple finally bringing about the 1000 year reign of Christ.

    But his Zionist chums believe unabashedly otherwise. Once all this takes place, it will really be the Jewish Messiah (Mosiach) who appears and the borders of Israel “will then magically expand to the size of the globe.” In other words, take over the entire planet, rendering Bishop Hagee, his flock and the rest of us poor slobs as slaves to them and their Messiah.

    Basically, the Zionists and Orthodox Jews are both using them to jack-up all the Armageddon bit for the security of secular Israel and, along with all this, creating the groundwork in advance of the Jewish Messiah, in the hopes it will entice Him to show up to the party — but for real. This is a big part of the overall Jewish Agenda and the New World Order.

    Who’s right? Who knows? I say it’s probable that both sides are very wrong but such thinking could get all of us into some serious BS. Like in World War BS. I’m being as serious as I possibly can be here.

    Now, the Khazar Jews, or the Ashkenazim, have serious positions of power in the Western world; although it’s quite true that many are not religious or orthodox Jews. Yet the State of Israel is obviously, blatantly the number-one issue for them, not America. So, in effect, they’re indeed fullfilling the exact same wishes of their religious people.

    Plus, it’s seems readily apparant that the real money power in this world, such as the Rothschilds, are fully behind all of this kind of thinking. Baron Edmond de Rothschild bought huge amounts of land in Palestine, in advance of the arrival of European Ashkenazim and even before Zionisim was introduced, supposedly the work of one Theodor Herzl.

    But there is a segment of Jews (the Torah Jews), who reject this line of Zionisim and act patriotically in the nations they live. They believe only God can do such things and such behavior by the Zionists is sinful and dangerous (they are right, there). But these people have been generally ignored by the majority of Jews, unfortunately.

    – INCOG MAN

    Go to my latest blog posting on the creation of modern Jewish history: The Wandering Who?

    * The US State department’s “Office of Global anti-Semitism” has recently declared parts of the New Testament as anti-Semitic “Hate speech,” such as when Jesus is turned over to the Romans, but not one word about any of the hate speech directed at Christians, contained within the Talmud!

    Despite passionate support of Israel by evangelicals, ADL claims Christianity is inherently anti-Semitic. ADL says the New Testament is the seedbed of suspicion and blame against Jews leading to the Holocaust of WW II.3 Televangelist John Hagee, recipient of numerous ADL/B’nai B’rith awards, upholds ADL propaganda. He preaches that Jews did not reject or kill Christ, do not have to accept Him, and that New Testament Christianity is a primary source of anti-Semitism throughout the ages. Read more here

    Read more here on the Talmud

    To read more here on the Khazars: Go here.

    The Jews themselves tell of Baron Edmond de Rothschild’s money going to “quiet settlement initiatives” in the 19th and early 20th century before there was ever any Israel: Read more here

    The Zionist’s plan for a third world war: Harbinger of WWIII

    http://incogman.wordpress.com/2008/04/24/the-jews-who-are-not-the-ancient-israelites/

  16. Lodewijjk Sitohang permalink
    Mei 3, 2009 2:42

    orang batak itu bisa di katakan keturunan bangsa yahudi karena mereka adalah suatu suku yang sangat keras, demikianlah.

  17. Shalomo Ben Dawidh permalink
    Mei 3, 2009 2:47

    Hal yang sama juga berdasarkan catatan Luthfi Assyaukani – Paramadina Mulia Jakarta yang berkunjung ke Israel Modern.

    Dikatakan bahwa (orang-orang) Israel adalah orang-orang yang serius dan keras, benar, jika kita melihatnya di airport dan kantor imigrasi. Mereka memang harus melakukan
    tugasnya dengan benar.

    Di tempat2 strategis seperti itu, mereka memang harus serius dan tegas, kalau tidak bagaimana jadinya negeri mereka, yang diincar
    dari delapan penjuru angin oleh musuh-musuhnya.

    he he he ….

  18. Batak Israel permalink
    Mei 3, 2009 2:50

    Mari bergabung di forum;

    http://batakisrael.wordpress.com/2009/04/24/3/#respond

    Mungkin, kita bisa share soal Batak Israel di forum ini.

    Thanks

  19. Mei 4, 2009 21:54

    harikuhariini bertanya: Mungkinkah tiga orang dengan nama berbeda, menyampaikan koment pada jam yang berurutan dari satu satu IP address yang sama??

    harikuhariini menjawab: mungkin saja….. everything is possible. isnt it?!

    Hagh……

  20. Shalomo Ben Dawidh permalink
    Mei 5, 2009 1:06

    @ harikuhariini bertanya: Mungkinkah tiga orang dengan nama berbeda, menyampaikan koment pada jam yang berurutan dari satu satu IP address yang sama??

    harikuhariini menjawab: mungkin saja….. everything is possible. isnt it?!

    Hagh……

    ===========

    Well, tentu saja my darling, karena blog mu, sangat mengesankan untuk cewe sepertimu, honey,….

    I love you so much, my dear……

    he he he….

    Shalom, Horas….

  21. Shalomo Ben Dawidh permalink
    Mei 5, 2009 1:11

    Oh, Honey, satu lagi pertanyaan untuk mu, mengapa foto mu di atas blog mu ini, engkau sedang memegang hidungmu yahhh? Apa gatal…

    Apa saat kamu difoto kamu lagi mencium sesuatu??????????

    Shalom, Horas….

  22. Mei 5, 2009 7:23

    Pak Shalomo Ben Dawidh.. salah kirim koment ya? Yang punya blog namanya Desni M Sinaga bukan Honey….

  23. ancoll permalink
    Mei 14, 2009 4:07

    @ Om Ray :
    Sori kalo saya baru sempat balas comment anda sekarang.
    Saya tetap bangga menjadi orang Kristen dan bangga sebagai orang Batak karena bagi saya Yesus Kristus adalah segala-galanya dalam hidup saya.
    Maaf ya, Om saya sudah melihat http://marbun.blogspot.com/2006/03/angka-tahun-sejarah-batak.html
    Saran saya jangan hanya membaca 1 refrensi saja dan juga hormatilah orang-orang yang berbeda agama dengan anda. Jangan menjadi orang yang fanatik sempit yang menjelek-jelekkan agama orang lain

  24. Shalomo Ben Dawidh permalink
    Mei 19, 2009 22:40

    @ancoll,

    Kalau menurut saya si Rai atau Ray, bukan orang batak tetapi dia orang padang, karena dikatakan atau disebut kalau kolonial belanda ingin menguasai seluruh wilayah andalas, wilayah itu adalah padang. Jadi bung ancoll, tidak perlu ditanggapi si padang ini, karena padang itu bengkok dan banci..

    Terimakasih

    Horas, Shalom Bangso Batak Israel

  25. monicantik permalink
    Juni 28, 2009 18:28

    WOW!

  26. alvatarz permalink
    Juli 10, 2009 17:48

    Saya sangat sedih Namun yang paling sedih adalah opung-opung yang dari Batu Hobon. kira2 sudah 4 bulan tulisan saya dengan Judul KEBENARAN BATU HOBON, PERNYATAAN NYI RORO KIDUL DAN ORANG-ORANG NINIWE namun tak satupun marga-marga poporan dari batu Hobon yang peduli.

    Mengapa???????????????
    Apakah Iblis benar-benar sudah menguasai kamu semua????????????????
    Kamu Bangga dengan Leluhur kamu yang terkenal sakti mandraguna tapi tak peduli kalau makamnya dirusak orang??????????
    Ya.. memang marga-marga sebagian besar naimarata pasaribu, limbong, sitorus dlll yang merusak dan mencuri di Batu hobon.

    Saya seorang pemuda asli Batak yang bukan marga tersebut sangat peduli, mengapa kamu semua tidak peduli???

    Tugas Saya menyatakan kebenaran dan menyadarkan manusia dari penyembahan berhala, baik melalui roh-roh leluhur ataupun Roh-Roh Kudus.
    Bukankah TUHAN YESUS tegas melarang hal tersebut. kalau kebenaran sudah diungkap, terserah manusia memilih jalannya.

    Buktikan langsung. Pergilah ke Pusuk Buhit, Lihat dan pegang sendiri itu memang Semen Kasar yang tidak dilicin.

    Batu Hobon yang asli adalah batu gunung berwarna Hitam sebesar gendongan tangan orang Dewasa.
    di bawah nya terdapat sebuah Goa yang merupakan makam leluhur orang batak.

    Mengenai keberadaannya dan beberapa pusaka yang dulu ada disana, ada pada manusia yang MERENOVASI BATU HOBON TAHUN 1986.

    Kalau Menurut saudara Yang ada Sekarang Hanya Simbol, itu tidak benar, tetapi suatu hal yang memalukan.

    Sadarkah saudara Jika Simbol itu telah salah maka yang berada dibawah simbol itu, yaitu orang-orang batak juga salah.

    Sadarkah saudara dengan Rusaknya Simbol tersebut berarti tatanan TAROMBO, Asal USUL leluhur Lae adalah Rusak.

    Mengapa lae lebih suka dengan simbol yang salah
    daripada membuktikan kebenaran?.

    Sadarkah lae, simbol patung leluhur yang ada disana merupakan Simbol diri Lae dan Seluruh orang Batak???

    Sadarkah lae, jika simbol berupa patung itu, Monyet, Kucing dan Babi adalah Leluhur Lae, Berarti Lae menerima kalau Lae adalah Keturunan salah Satu dari ke-3 Hewan tersebut.

    Itulah Pengtingnya KEBENARAN BATU HOBON.
    ASAL-usul Orang Batak, dan Kepaercayaan kepada Allah Bapa yang Tri Tunggal Tuhan Kita.

    1. Thn 1986 Renovasi Batu Hobon.
    2. Thn 1988 Upacara pemusnahan pusaka peninggalan
    Nyi Roro Kidul (BIDING LAUT) putri dari Raja
    Tea-Tea Bulan di Pantai Selatan.
    3. Gondang Nyi Roro Kidul di Taman Mini disokong
    Presiden Susilo Bambang Yudoyono.

    ini Hasil pekerjaan suatu organisasi yang terdiri dari dukun (Paranormal),Pendeta, ulama, dsb.

    Kalau Tokoh agama selalu berkotbah bahwa perdukunan adalah suatu berhala penyembah setan, lalu,,,,,,,

    Mengapa mereka bersatu untuk hal ini ?
    Lalu yang jadi setannya siapa?

    Mungkin bagi lae semuanya ini tidak penting, tetapi bagi Kerajaan ALLAH ini sangat penting.
    tiada hal yang paling penting selain Kebenaran Kerajaan Allah, Kerajaan Kasih.
    Tidakkah kamu mau kembali ke jalan yang benar sebelum HARI PENGHAKIMAN yang hanya beberapa masa lagi??????

    salam kasih,,,,,,,,alvatarz111@gmail.com,,,,,,,,

  27. harikuhariini permalink*
    Juli 11, 2009 7:08

    waduhhhhh…..
    ckckckkckckkckckkckkkk….
    (bingung sambil geleng2 kepala)

  28. Februari 26, 2011 14:29

    Lho..berarti saya itu separo Israel separo China, mami saya batak toba trus bapak saya totok jawa yang katanya nenek moyang orang jawa itu aslinya orang Yunan

    • Februari 26, 2011 15:33

      Oh mba ndaru ada batak2nya jg toh. Kirain pure jawa.
      Yah, apapun dan siapapun lah nenek moyang kita mba, yang jelas kita masih sodara mba, keturunan adam dan hawa.

  29. roy tupang permalink
    Juli 31, 2012 19:40

    God bless israel and God bless batak shalom aleakhim and horas ma dihita saluhutna..

  30. April 10, 2013 11:13

    Your style is unique in comparison to other folks I’ve read stuff from. I appreciate you for posting when you’ve
    got the opportunity, Guess I’ll just book mark this page.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 33 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: